Riadi Solihin Bawa Warisan Politik Sang Kakak, Siapkan Aiq Dareq Bersinar dan Satukan Kekuatan Kebangsaan

Lombok Bicara.com Lombok Bicara.com Lombok Bicara.com
Riadi Solihin menyampaikan visi “Aiq Dareq Bersinar” dan gagasan Dialog Kebangsaan menjelang Pilkades Serentak 2026 di Lombok Tengah. (Foto: Istimewa)

LOMBOK TENGAH – Riadi Solihin, Ketua LSM PEKAT Kabupaten Lombok Tengah, memastikan langkah politiknya tidak berhenti pada aktivitas sosial dan organisasi. Setelah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia organisasi serta menjalani kehidupan sebagai perantau di Brunei Darussalam, Riadi kini menyatakan kesiapan terjun langsung ke politik praktis melalui kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026.

Desa Aiq Dareq menjadi panggung pengabdian yang dipilihnya. Dengan membawa pengalaman organisasi, jejaring sosial, serta warisan pemikiran politik dari mendiang kakaknya, H. Syahdan Ilyas, Riadi mengaku memiliki tekad kuat untuk membangun desa kelahirannya dalam delapan tahun ke depan.

“Kakak kandung saya mewarisi ilmu politik langsung kepada saya. Insyaallah, dengan izin Allah, saya akan melanjutkan perjuangan almarhum kakak saya untuk berkhidmat bagi NTB, dimulai dari desa kelahiran saya,” ujar Riadi.

Bagi Riadi, keputusan maju dalam Pilkades bukan sekadar ambisi politik. Ada sejarah panjang yang membuatnya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan pengabdian sang kakak.

Ia mengaku telah mengikuti perjalanan H. Syahdan Ilyas sejak dirinya lulus STM. Dari keterlibatan di Koperasi Al-Ikhsan di lingkungan Departemen Agama Kabupaten Lombok Barat hingga mengikuti perjalanan karier sang kakak di lingkungan Kanwil Kementerian Agama NTB, Riadi menyebut banyak pelajaran kepemimpinan yang diwariskan kepadanya.

“Banyak sekali legacy almarhum kakak saya yang harus saya lanjutkan bersama putra-putri beliau, khususnya Haifa bin Syahdan yang sekarang menjadi Ketua Tim Hukum dalam tim saya,” katanya.

Riadi juga menegaskan bahwa perjalanan politiknya tidak dibangun di atas sekat organisasi maupun perbedaan kelompok. Ia menyebut keluarga dan lingkungan perjuangan sang kakak memiliki akar kuat dalam tradisi Nahdlatul Wathan (NW), namun bagi dirinya perbedaan antara NW dan NWDI bukan alasan untuk membangun jarak di tengah masyarakat.

“Kakak saya tokoh NW, guru kami Maulana Syekh. Kami tidak membeda-bedakan NW dan NWDI. Semua adalah cucu Maulana Syekh. Di Aiq Dareq, perbedaan adalah kekuatan bagi kami dalam membangun desa,” tegasnya.

Dari Perantauan Brunei, Pulang Membawa Gagasan

Selama kurang lebih 18 tahun, Riadi mengaku merantau dan mencari nafkah di Brunei Darussalam. Pengalaman tersebut menjadi modal sosial sekaligus sumber inspirasi untuk melihat bagaimana sebuah lingkungan masyarakat dapat dikelola secara tertib, bersih, aman dan berorientasi pada kesejahteraan.

Kini, pengalaman itu ingin dibawa pulang dan diterapkan di Aiq Dareq.

Ia menawarkan visi “Aiq Dareq Bersinar”, yang merupakan akronim dari Bersih, Sehat, Indah, Nyaman, Aman dan Responsif.

Bersih, menurut Riadi, tidak hanya menyangkut kebersihan lingkungan, tetapi juga tata kelola pemerintahan desa yang bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

“Saya ingin desa bersih dari korupsi dan lingkungan juga bersih dari sampah. Saya memiliki gagasan untuk mengatasi persoalan sampah di 13 dusun yang ada di Desa Aiq Dareq,” katanya.

Sementara Sehat dimaknai tidak hanya sebagai kesehatan lingkungan, tetapi juga kesehatan ekonomi masyarakat.

“Sehat itu lingkungan sehat dan isi kantong juga sehat. Artinya, kesejahteraan masyarakat harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Adapun Indah, lanjut Riadi, bukan semata-mata soal wajah desa, tetapi juga menyangkut keindahan hati dan integritas penyelenggara pemerintahan.

Sedangkan Nyaman dan Aman menjadi jaminan yang ingin ia hadirkan bagi masyarakat. Terakhir, Responsif berarti pemerintah desa harus mampu mendengar, merespons dan menuntaskan keluhan serta kebutuhan warga.

“Seluruh potensi yang ada di Aiq Dareq akan saya maksimalkan untuk kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Tak Sekadar Pilkades, Riadi Gagas Dialog Kebangsaan

Di tengah persiapan menghadapi Pilkades, Riadi juga membawa agenda yang lebih luas. Dalam rapat koordinasi dan konsolidasi organisasinya, ia mengusulkan Lombok Tengah menjadi tuan rumah Dialog Kebangsaan yang direncanakan digelar pada 27–29 September 2026.

Forum tersebut dirancang bukan sebagai kegiatan seremonial, melainkan ruang untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat, organisasi kemasyarakatan, LSM, unsur pemerintah dan kekuatan politik untuk membicarakan persoalan konkret daerah.

Riadi mengatakan konsolidasi akan dilakukan sepanjang Agustus hingga September untuk mematangkan agenda tersebut.

Sejumlah pihak yang direncanakan terlibat antara lain kepala daerah, pimpinan DPRD, ketua partai politik, pimpinan komisi dan fraksi DPRD, serta pimpinan organisasi perangkat daerah.

Isu yang akan dibahas pun diarahkan pada persoalan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, mulai dari ketahanan pangan, kemiskinan ekstrem, stunting, infrastruktur, penerangan jalan umum hingga berbagai persoalan sosial kemasyarakatan.

“Kami ingin perbedaan dikonversi menjadi kekuatan. Kita ingin menggali ide dan gagasan bersama untuk membangun desa sebagai fondasi pembangunan daerah,” ujarnya.

Riadi menyebut semangat tersebut sejalan dengan nilai yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kebangsaan masyarakat NTB.

Ia mengajak berbagai elemen seperti NW, NWDI, Satgas Hamzanwadi, Barisan Hizbullah, NU, Muhammadiyah serta berbagai organisasi masyarakat lainnya untuk melihat perbedaan sebagai kekuatan bersama.

“NW, NWDI, Satgas Hamzanwadi, Barisan Hizbullah, NU, Muhammadiyah adalah elemen kekuatan bangsa. Kita harus bersatu,” katanya.

Merangkul LSM dan Elemen Strategis Lombok Tengah

Dialog Kebangsaan itu juga akan menjadi ruang mempererat komunikasi antara organisasi masyarakat, LSM dan unsur Forkopimda.

Riadi menyebut sejumlah organisasi seperti KASTA, Laskar Sasak, ALARM, Sasaka Nusantara dan Laskar NTB sebagai bagian dari elemen masyarakat yang akan diajak terlibat.

Menurutnya, membangun daerah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, organisasi kemasyarakatan, LSM dan seluruh kelompok masyarakat.

“Dialog Kebangsaan ini juga menjadi perekat kami dengan unsur Forkopimda dan teman-teman LSM lainnya. Mereka adalah saudara-saudara kami yang akan kami undang dalam event ini,” katanya.

Didukung Dua Organisasi, Fokus pada Desa

Dalam perjalanan menuju Pilkades Aiq Dareq, Riadi mengaku mendapat dukungan dari lingkungan organisasi yang selama ini menjadi bagian dari aktivitasnya, termasuk PEKAT IB NTB dan LSM LIRA NTB.

Ia menyebut dukungan tersebut menjadi energi tambahan untuk memperkuat konsolidasi, tetapi menegaskan bahwa inti perjuangannya tetap berada pada kepentingan masyarakat Desa Aiq Dareq.

Riadi juga menilai pengalamannya sebagai mantan manager otomotif PT Gerbang NTB Emas, perusahaan daerah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan profesional almarhum kakaknya, menjadi salah satu bekal dalam memahami manajemen dan tata kelola organisasi.

Kini seluruh pengalaman tersebut ingin ia bawa ke level pemerintahan desa.

“Saya maju bukan sekadar untuk memenangkan kontestasi. Saya maju untuk menuntaskan pekerjaan yang menurut saya belum maksimal dan menghadirkan pemerintahan desa yang benar-benar responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” tutup Riadi.

Tutup