Bappeda NTB Gandeng Rotterdam University Bahas Penanganan Stunting hingga Perkawinan Anak
MATARAM – Persoalan kesehatan masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya berkaitan dengan layanan medis, tetapi juga dipengaruhi kondisi sosial dan ekonomi, mulai dari kemiskinan, kualitas pendidikan, sanitasi, hingga perkawinan anak. Berbagai persoalan tersebut menjadi perhatian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB dalam mendorong penguatan pembangunan manusia melalui kolaborasi dengan Rotterdam University dan Yayasan Gentle Care Indonesia.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam audiensi terkait Program Global Health Beyond Borders di Ruang Rapat Geopark Bappeda NTB, Jumat (16/10/2026). Pertemuan diterima langsung Kepala Bappeda Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti, AP., M.Si., didampingi Sekretaris Bappeda dan para kepala bidang.
Dalam diskusi tersebut, sejumlah isu pembangunan dibahas dengan menempatkan kesehatan sebagai salah satu aspek yang berkaitan erat dengan kondisi kehidupan masyarakat. Baiq Nelly menyoroti hubungan antara kemiskinan, kualitas sumber daya manusia, dan kesehatan yang saling memengaruhi dalam pembangunan daerah.
Menurutnya, persoalan seperti stunting, pola hidup sehat, sanitasi, hingga perkawinan anak tidak dapat ditangani secara terpisah. Diperlukan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak agar penanganannya dapat disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat.
Baiq Nelly juga menekankan bahwa upaya perbaikan tidak harus selalu dimulai melalui program berskala besar. Langkah-langkah konkret yang menyentuh kebutuhan masyarakat dinilai penting untuk menjadi bagian dari proses perubahan.
“Tidak harus langsung dalam skala besar, tetapi dimulai dari langkah konkret yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap Baiq Nelly.
Salah satu peluang yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah menyinergikan kolaborasi dengan Program Desa Berdaya. Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat, termasuk melalui edukasi kesehatan yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan Posyandu Keluarga.
Edukasi kesehatan menjadi perhatian karena peningkatan kesadaran masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai penyakit, tetapi juga kebiasaan hidup sehat dan pemahaman terhadap berbagai persoalan yang memengaruhi kualitas hidup. Melalui Posyandu Keluarga, edukasi tersebut diharapkan dapat lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Selain persoalan kesehatan, keterlibatan generasi muda juga menjadi salah satu hal yang disoroti dalam diskusi. Perkawinan anak dan keberlanjutan pendidikan dinilai membutuhkan perhatian bersama, terutama dalam membuka kesempatan bagi anak-anak untuk terus melanjutkan pendidikan dan merencanakan masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, Baiq Nelly menyampaikan pesan mengenai pentingnya membangun keberanian generasi muda untuk memiliki cita-cita dan memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih luas.
“Dunia ini luas. Saya ingin anak-anak kita berani bermimpi, terus bersekolah, dan memahami bahwa mereka memiliki banyak kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik,” pesannya.
Melalui pertemuan ini, Pemerintah Provinsi NTB bersama Rotterdam University dan Yayasan Gentle Care Indonesia diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam menghadirkan pendekatan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sinergi tersebut diarahkan pada penguatan pembangunan manusia, peningkatan kesadaran kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat.
Penyelarasan dengan Program Desa Berdaya dan penguatan edukasi melalui Posyandu Keluarga menjadi salah satu peluang tindak lanjut yang dibahas untuk mendukung upaya tersebut.