Menjaga Marwah Kampus, Tokoh Sasak Ajak Semua Pihak Redakan Suhu Pilrek Unram

Tokoh adat Sasak, Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, SH., MH., menyampaikan pesan sejuk jelang Pilrek Unram. (Foto: Istimewa)

Mataram – Pemilihan Rektor Universitas Mataram (Unram) 2025 menjadi perhatian luas masyarakat NTB. Isu yang bermula dari lingkup internal kampus kini melebar hingga menjadi perbincangan publik. Di tengah meningkatnya suhu opini, suara penyejuk datang dari tokoh adat Sasak yang menyerukan pentingnya menjaga marwah kampus dan mengedepankan ketenangan.

Pengerakse Agung Majelis Adat Sasak (MAS), Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, SH., MH., mengimbau seluruh elemen masyarakat dan civitas akademika Unram untuk menahan diri dan tidak memperkeruh suasana.

“Kami dari MAS berharap dalam pemilihan Rektor Unram dilakukan dengan aman dan tenteram dengan mengedepankan peraturan perundangan yang berlaku. Kita jaga Unram ini sebagai perguruan tinggi terbesar di NTB, maka harapannya adalah Unram dapat dijadikan contoh yang baik dalam pemilihan pimpinannya,” ujarnya.

Tokoh adat ini juga mengingatkan bahwa Unram telah tumbuh menjadi kampus unggulan. Selain mencatat berbagai capaian akademik, pembangunan infrastruktur kampus dalam beberapa tahun terakhir juga berkembang pesat, hingga setara dengan universitas-universitas maju di Indonesia. Kondisi ini, katanya, adalah kebanggaan bersama masyarakat NTB.

“Unram sudah menjadi simbol kemajuan daerah kita. Maka proses pemilihan rektornya harus mencerminkan nilai keadaban, kedewasaan berdemokrasi, dan kepatuhan terhadap aturan. Bukan sebaliknya,” ujarnya menekankan.

Polemik yang terjadi, mulai dari dinamika pemilihan Senat, sanksi etik terhadap kandidat, hingga laporan hukum di fakultas, telah menarik perhatian publik luas. Kondisi ini berpotensi menjadi bola liar jika tidak diimbangi dengan suara penyejuk. Karena itu, peran tokoh masyarakat dan ormas menjadi sangat penting untuk meredam potensi ketegangan.

“Terpenting kita sebagai warga masyarakat berdoa dan berharap semoga Unram berhasil memilih pimpinannya dengan sebaik-baiknya,” tutupnya.

Harapan yang sama juga datang dari banyak pihak di NTB, baik akademisi, mahasiswa, tokoh agama, maupun masyarakat sipil. Mereka menginginkan agar Pilrek Unram menjadi proses demokrasi kampus yang bersih, jujur, dan berintegritas. Sebab, Unram bukan hanya kampus, tetapi simbol peradaban NTB.

Dengan semangat itulah, suara tokoh adat Sasak menjadi penyejuk penting di tengah riuhnya opini publik. Suara yang mengingatkan semua pihak, bahwa perbedaan pilihan adalah hal wajar, tetapi menjaga kehormatan kampus adalah tanggung jawab bersama.

Tutup