Setelah Kisruh Mereda, Dapur Gizi Montong Are 2 Kembali Menyala: Sebuah Babak Baru dari Program MBG

Ketua Yayasan Agniya Pagutan Timur, Hariyanto M.H. (Foto: Istimewa)

Lombok Barat – Aroma dapur gizi itu akan kembali menguar Senin pagi nanti.
Setelah hampir sepekan tertutup rapat karena polemik administratif, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Montong Are 2 akhirnya siap kembali beroperasi.

Dua pihak yang sempat berselisih Yayasan Agniya Pagutan Timur dan Kepala SPPG Montong Are 2 kini berjabat tangan. Sebuah kabar damai datang di akhir pekan yang panjang.

“Alhamdulillah, baru selesai di mediasi. Ada kesepakatan dapur dibuka kembali. Insyaallah Senin sudah mulai operasional,” ujar Ketua Yayasan Agniya, Hariyanto, M.H., dengan nada lega.

Malam itu, suasana mediasi berjalan hangat. Tak ada lagi suara tinggi, tak ada lagi tuding-menuding. Yang tersisa hanya satu kesadaran bersama, bahwa program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bukan milik siapa-siapa, melainkan amanah untuk masyarakat, terutama anak-anak penerima manfaat.

Dari Konflik ke Komitmen

Kesepakatan yang dicapai bukan sekadar membuka dapur, tapi membuka kembali saluran komunikasi yang sempat tersumbat.

Baik Yayasan Agniya maupun Kepala SPPG sepakat menjaga marwah program MBG, memperkuat koordinasi, dan menyelesaikan persoalan dengan dialog.

“Kami sepakat menjalin komunikasi yang lebih baik dan selalu berkoordinasi agar setiap persoalan bisa cepat dicarikan solusi terbaik,” kata Hariyanto.

Langkah ini menjadi titik balik setelah serangkaian perbedaan pandangan terkait mekanisme operasional dan penggunaan dana program.

Kisruh yang sempat mencuat ke publik kini ditutup dengan semangat kerja sama dan tekad untuk memperbaiki manajemen pelayanan gizi.

Kembali untuk Anak-Anak

Bagi warga Montong Are, kabar ini lebih dari sekadar penyelesaian administrasi.
Bagi mereka, dapur SPPG bukan hanya tempat memasak, melainkan sumber harapan bagi ratusan anak sekolah yang setiap hari menanti makanan bergizi dari program MBG.

“SPPG Montong Are 2 siap beroperasi kembali dan melayani MBG kepada para penerima manfaat,” tegas Hariyanto dalam pernyataan resminya.

Kini para tenaga dapur bersiap kembali mensterilkan alat masak, menyiapkan bahan segar, dan memastikan menu yang tersaji memenuhi standar gizi. Kepala SPPG dan tim yayasan sepakat, tak boleh ada lagi miskomunikasi yang membuat dapur berhenti beroperasi.

Pelajaran dari Sebuah Polemik

Kisruh antara yayasan dan Kepala SPPG beberapa hari lalu sempat memantik perhatian publik.
Kedua pihak sempat berbeda pandangan: kepala SPPG menyebut anggaran belum turun, sementara yayasan menegaskan saldo masih tersedia sekitar Rp297 juta. Namun kini, mereka memilih untuk tidak lagi memperdebatkan masa lalu.

“Tidak ada yang kalah atau menang. Yang penting program jalan, anak-anak tetap menerima haknya,” ujar Hariyanto.

Pernyataan itu menjadi penutup dari drama administrasi yang sempat membuat dapur berhenti beroperasi sekaligus menjadi awal dari babak baru kolaborasi di lapangan.

Menjaga Marwah, Menjaga Kepercayaan

Program MBG lahir dari semangat negara untuk memperkuat ketahanan gizi anak-anak Indonesia. Karena itu, setiap pelaksana di daerah memiliki tanggung jawab besar tidak hanya soal anggaran dan menu, tapi juga soal kepercayaan.

Yayasan Agniya dan Kepala SPPG Montong Are 2 kini berkomitmen menjaga hal itu.
Mereka sepakat memperbaiki mekanisme pelaporan, memperkuat koordinasi, dan menjadikan komunikasi sebagai kunci utama agar dapur gizi terus beroperasi tanpa gangguan.

“Yang kami jaga sekarang bukan hanya dapur, tapi juga marwah dan kepercayaan masyarakat,” tutur Hariyanto.

Harapan Baru di Dapur Lama

Senin pagi nanti, panci besar itu akan kembali menguap.

Suara kompor dan aroma lauk segar akan kembali memenuhi ruang dapur SPPG Montong Are 2 sebuah tanda bahwa kerja sama bisa mengalahkan kesalahpahaman.

Program MBG di Montong Are kini memasuki babak baru: dari konflik menuju kolaborasi, dari saling curiga menuju saling percaya.

Karena pada akhirnya, di atas semua perbedaan, yang terpenting bukan siapa yang benar tapi siapa yang tetap berpihak pada kepentingan anak-anak bangsa.

Tutup