Pelanggaran Turun 24 Persen, Ini Hasil Operasi Keselamatan Rinjani 2022
MATARAM – Pelanggaran lalu lintas di wilayah hukum Polda NTB diklaim turun 24 persen. Hal ini diketahui dari hasil Operasi Keselamatan Rinjani 2022.
Direktur Lalu Lintas Polda NTB Kombes Pol Djoni Widodo menyampaikan bahwa Operasi Keselamatan Rinjani ini digelar selama 14 hari, mulai 13 hingga 26 Mei 2022.
“Dalam pelaksanaan operasi tersebut, polisi memberikan peringatan kepada pelanggaran kasat mata, secara Preventif, Preemtif dan penindakan hukum bila dibutuhkan,” ujar Djoni Widodo, di Mataram, Senin (30/5/2022).
Menurut Djoni, selama pelaksanaan Operasi Keselamatan Rinjani 2022 yang telah dilaksanakan oleh Satgas Preemtif secara umum mengalami peningkatan sebanyak 5.145 kegiatan atau naik 24 persen.
“Kami juga memberikan apresiasi kepada para pengendara yang taat aturan berupa helm SNI. Hadiah itu bukan untuk yang melanggar aturan tidak memakai helm, tetapi yang taat aturan,” paparnya.
Djoni menerangkan, jumlah pelanggaran lalu lintas selama pelaksanaan Operasi Keselamatan Rinjani 2022 sebanyak 8.422 pelanggar. Hal ini mengalami penurunan 2.619 pelanggar atau 24 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2021 dengan 11.041 pelanggar.
Selain itu, kegiatan peneguran terhadap pelanggaran lalu lintas pada pelaksanaan operasi ini juga mengalami penurunan sebanyak 4.660 kasus atau turun 46 persen.
“Ini menandakan bahwa ada peningkatan kesadaran masyarakat dalam berkendara yang taat aturan berlalu lintas,” imbuh Djoni.
Dalam Operasi Keselamatan Rinjani 2022 juga dilaksanakan kegiatan Program Nasional Kemananan dan keselamatan lalu lintas sebagai bagian dari bentuk kegiatan Preemtif. Kegiatan ini diantaranya yakni, penyuluhan cara aman ke sekolah, patroli kemananan sekolah, Police Goes to Campus, Pramuka Saka Bhayangkara Krida Lalu Lintas dan lainnya.
“Setelah Operasi Keselamatan Rinjani 2022 ini, masyarakat kami himbau untuk selalu manaati aturan berlalu lintas. Jadikan tertib berlalu lintas itu sebagai kebutuhan, bukan karena takut di tilang atau di razia, tetapi memang karena kesadaran akan pentingnya keselamatan diri dan orang lain,” kata Djoni.(*)
Tinggalkan Balasan