PLN UP3 Bima Edukasi Petani soal Bahaya Setrum Tikus, Keselamatan Jadi Prioritas
BIMA – Upaya melindungi tanaman dari serangan hama tidak boleh mengorbankan keselamatan manusia. Di kawasan persawahan, penggunaan kawat bertegangan listrik untuk mengendalikan hama tikus merupakan praktik berbahaya yang berpotensi menyebabkan sengatan listrik fatal. Risiko inilah yang menjadi salah satu perhatian PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Bima saat memberikan edukasi keselamatan ketenagalistrikan dalam Rapat Koordinasi Program Strategis Kementerian Pertanian.
Dalam kegiatan tersebut, PLN UP3 Bima tidak hanya menyampaikan pentingnya pemanfaatan energi listrik untuk mendukung produktivitas pertanian melalui program Irigasi dan Pompanisasi (IRPOM), tetapi juga menegaskan bahwa penggunaan listrik harus mengikuti ketentuan dan mengutamakan keselamatan jiwa.
Pesan tersebut relevan bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan pertanian. Lahan persawahan bukan hanya menjadi ruang produksi pangan, melainkan juga tempat petani bekerja setiap hari, warga melintas, dan anak-anak dapat beraktivitas di lingkungan sekitar. Keberadaan instalasi listrik yang tidak aman di area tersebut berpotensi menimbulkan bahaya bagi siapa pun yang bersentuhan langsung maupun tidak sengaja mendekatinya.
Penggunaan kawat yang dialiri listrik untuk menghalau hama tikus menjadi salah satu contoh praktik yang perlu dihindari. Meskipun mungkin dimaksudkan untuk melindungi tanaman, aliran listrik pada kawat terbuka dapat menciptakan risiko yang sulit diperkirakan oleh orang lain. Sengatan listrik dapat menyebabkan cedera berat, bahkan kematian.
Bahaya tersebut tidak hanya mengancam orang yang memasang kawat. Petani lain yang bekerja di lahan berdekatan, warga yang melintasi pematang, maupun anak-anak yang berada di sekitar persawahan juga dapat menjadi korban apabila tidak mengetahui keberadaan kawat bertegangan listrik.
Atas dasar itu, PLN mengimbau masyarakat untuk tidak menjadikan listrik sebagai jebakan hama dan tidak melakukan penyambungan listrik secara ilegal. Penanganan hama perlu dilakukan dengan metode yang tidak menempatkan manusia dalam bahaya, sementara pemanfaatan energi listrik harus menggunakan instalasi yang sesuai standar dan ketentuan keselamatan.
Edukasi tersebut disampaikan bersamaan dengan sosialisasi program IRPOM, yang mendorong penggunaan tenaga listrik untuk mendukung pengairan lahan pertanian melalui pompa air. Melalui program ini, listrik diarahkan untuk menunjang kegiatan produktif masyarakat, terutama dalam membantu pengelolaan pengairan sawah secara lebih efektif.
Dengan demikian, pemanfaatan energi di sektor pertanian perlu dipahami dari dua sisi yang saling berkaitan. Di satu sisi, listrik berpotensi mendukung efisiensi operasional dan keberlangsungan kegiatan pertanian. Di sisi lain, penggunaannya harus dikendalikan melalui instalasi yang aman, kepatuhan terhadap aturan, dan pemahaman mengenai potensi bahaya kelistrikan.
Manager PLN UP3 Bima menyampaikan bahwa pemanfaatan listrik untuk irigasi dan pompanisasi harus disertai peningkatan kesadaran masyarakat mengenai keselamatan. Dukungan kelistrikan bagi sektor pertanian akan memberikan manfaat apabila penggunaannya dilakukan sesuai ketentuan dan tidak menimbulkan risiko bagi petani maupun lingkungan sekitar.
PLN juga meminta masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan instalasi listrik terbuka, sambungan yang tidak sah, atau jaringan yang berpotensi membahayakan. Pelaporan tersebut menjadi langkah penting untuk membantu mencegah risiko kecelakaan sebelum menimbulkan korban.
Masyarakat diharapkan tidak mencoba menangani sendiri instalasi bertegangan atau mendekati kawat yang dicurigai dialiri listrik. Menjaga jarak dari sumber bahaya dan melaporkannya kepada pihak berwenang merupakan langkah yang lebih aman dibandingkan mengambil tindakan tanpa kompetensi dan peralatan yang memadai.
Partisipasi PLN UP3 Bima dalam Rapat Koordinasi Program Strategis Kementerian Pertanian juga memperkuat pentingnya kerja sama antara sektor ketenagalistrikan dan pertanian. Peningkatan produktivitas lahan perlu berjalan beriringan dengan perlindungan keselamatan masyarakat yang bekerja dan beraktivitas di kawasan persawahan.
General Manager PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (UIW NTB), Yondri Zulfadli, menegaskan bahwa komitmen PLN tidak hanya berkaitan dengan penyediaan listrik, tetapi juga dengan upaya memastikan energi dimanfaatkan secara aman dan bertanggung jawab.
“Semangat Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum bagi kita semua untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat. PLN tidak hanya berkomitmen menyediakan listrik untuk mendukung sektor pertanian, tetapi juga mendorong pemanfaatannya secara aman dan bertanggung jawab. Kami berharap sinergi bersama pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat produktivitas pertanian, mendukung ketahanan pangan, serta menghadirkan manfaat energi listrik yang berkelanjutan bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat,” ujar Yondri.
Melalui edukasi yang dilakukan dalam momentum menjelang Hari Sumpah Pemuda, PLN UP3 Bima berharap kesadaran mengenai keselamatan ketenagalistrikan semakin menguat di kalangan petani dan masyarakat. Produktivitas pertanian yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh pengelolaan lahan dan ketersediaan air, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pihak menjaga lingkungan kerja agar tetap aman.
Sebab, keberhasilan pertanian bukan semata-mata tentang tanaman yang terlindungi atau pengairan yang berjalan lancar. Keselamatan manusia yang mengelola lahan juga merupakan bagian mendasar dari pembangunan pertanian yang bertanggung jawab.