Mimpi Anak Muda NTB Menembus Jepang Terbuka, KUR Syariah Disiapkan untuk Atasi Kendala Biaya
MATARAM – Bagi sebagian generasi muda Nusa Tenggara Barat (NTB), bekerja atau mengikuti program pemagangan di Jepang bukan sekadar kesempatan mencari pengalaman di luar negeri. Peluang tersebut juga menjadi jalan untuk meningkatkan keterampilan, memperluas wawasan, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Namun, keinginan itu tidak selalu berjalan mulus. Di tengah tuntutan kompetensi dan persyaratan keberangkatan, keterbatasan biaya persiapan masih menjadi tantangan bagi sebagian calon peserta.
Kondisi inilah yang ingin dijawab melalui kerja sama Bank NTB Syariah dengan PT Lombok Global Edukasi. Kedua pihak menjalin kolaborasi untuk mendukung penyaluran pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan peserta pemagangan luar negeri, khususnya Jepang.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian di Gedung Bank NTB Syariah, Mataram, Selasa (13/10/2026).
Melalui skema tersebut, calon peserta yang memenuhi ketentuan diharapkan memiliki alternatif pembiayaan untuk mempersiapkan keberangkatan. Program ini sekaligus membuka ruang kolaborasi antara lembaga keuangan, lembaga pelatihan kerja, dan pemerintah daerah dalam mempersiapkan tenaga kerja yang kompeten.
Direktur PT Lombok Global Edukasi, I Putu Darma Bakti, menyambut baik dukungan pembiayaan tersebut. Menurutnya, fasilitas KUR dapat membantu calon peserta yang selama ini menghadapi kendala pendanaan untuk mengikuti program pemagangan di Jepang.
Ia menjelaskan, sebagian peserta harus menyiapkan sendiri biaya yang diperlukan sebelum berangkat. Sementara itu, tidak semua calon peserta memiliki kemampuan finansial yang sama, meskipun mereka berpotensi mengikuti program.
Darma Bakti menyebutkan, lebih dari 50 calon peserta telah menandatangani kontrak dengan perusahaan di Jepang. Dari jumlah tersebut, sebagian mampu membiayai persiapan secara mandiri, sedangkan peserta lainnya berpotensi membutuhkan dukungan pembiayaan.
Kehadiran fasilitas KUR diharapkan menjadi salah satu alternatif bagi calon peserta yang memenuhi persyaratan untuk mengatasi kendala tersebut.
Meski demikian, akses pembiayaan tetap harus disertai perencanaan yang matang. Calon peserta perlu memahami seluruh tahapan program, memenuhi persyaratan administrasi, serta memastikan lembaga penyelenggara dan program yang diikuti memenuhi ketentuan.
Bukan Sekadar Tiket Berangkat ke Luar Negeri
Direktur Pembiayaan Bank NTB Syariah, Agus Suhendro, mengatakan bank memperoleh plafon pembiayaan KUR sebesar Rp10 miliar untuk program tersebut pada tahun ini.
Fasilitas itu dapat diakses calon PMI maupun peserta pemagangan melalui lembaga pelatihan kerja (LPK) atau perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI) yang memenuhi ketentuan.
Agus menegaskan, Bank NTB Syariah membuka kesempatan bagi calon peserta untuk mengakses fasilitas tersebut, tetapi setiap pengajuan tetap melalui proses verifikasi dan penilaian kelayakan.
Bank akan berkoordinasi dengan lembaga pelatihan dan pihak terkait untuk memastikan profil calon penerima serta kesiapan mereka mengikuti program penempatan kerja atau pemagangan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan biaya keberangkatan. Kesiapan calon peserta dan kejelasan program juga menjadi bagian penting dalam proses penyaluran.
Agus mengakui penyerapan pembiayaan pada tahap awal masih relatif rendah karena program baru mulai berjalan. Kendati demikian, bank optimistis penyaluran dapat meningkat seiring bertambahnya mitra dan semakin luasnya sosialisasi kepada masyarakat.
Bank NTB Syariah juga menyatakan terbuka terhadap kerja sama dengan lembaga yang menyelenggarakan program penempatan dan pemagangan ke berbagai negara tujuan, selama memenuhi ketentuan yang berlaku.
Kompetensi Menjadi Modal Utama
Kepala Disnakertrans NTB, Aidy Furqan, yang hadir mewakili Gubernur NTB, menilai dukungan pembiayaan perlu diikuti dengan persiapan sumber daya manusia yang memadai.
Menurutnya, kesempatan bekerja atau mengikuti pemagangan di luar negeri harus dipandang sebagai proses peningkatan kompetensi, bukan semata-mata kesempatan untuk berangkat ke negara lain.
Calon peserta perlu membekali diri dengan kemampuan bahasa asing, keterampilan sesuai bidang pekerjaan, kedisiplinan, serta kemampuan beradaptasi dengan budaya dan lingkungan kerja yang berbeda.
Aidy menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, sektor perbankan, dan lembaga pelatihan kerja untuk memastikan calon peserta memperoleh informasi serta pendampingan yang dibutuhkan.
Sosialisasi juga perlu diperluas agar masyarakat memahami mekanisme pengajuan pembiayaan, persyaratan program, dan tahapan yang harus dipersiapkan sebelum keberangkatan.
Dengan informasi yang memadai, calon peserta diharapkan dapat mengambil keputusan secara lebih matang dan mengikuti program melalui lembaga yang memenuhi persyaratan.
Aidy berharap kerja sama tersebut dapat berlanjut dan membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda NTB untuk mengembangkan keterampilan melalui jalur kerja maupun pemagangan di luar negeri.
Pengalaman Internasional untuk Pembangunan Daerah
Pengalaman kerja di Jepang berpotensi memberikan manfaat jangka panjang apabila peserta mampu memanfaatkan keterampilan yang diperoleh setelah kembali ke Indonesia.
Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang berangkat, tetapi juga dari kemampuan mereka meningkatkan kompetensi, mengembangkan karier, dan menerapkan pengalaman tersebut di daerah asal.
Darma Bakti berharap peserta yang menyelesaikan program dapat kembali dengan keterampilan dan pengalaman yang berguna bagi masyarakat NTB.
“Kami berharap setelah kembali dari Jepang, para peserta dapat membangun NTB dan memberikan kontribusi bagi daerah,” ujarnya.
Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa program pemagangan di luar negeri memiliki dimensi yang lebih luas daripada penempatan tenaga kerja. Ada proses pembelajaran, pengembangan keterampilan, dan peluang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dukungan pembiayaan dari Bank NTB Syariah diharapkan dapat membantu mengurangi salah satu hambatan yang dihadapi calon peserta. Namun, pembiayaan tetap perlu diiringi kesiapan kompetensi, pemahaman terhadap prosedur, dan kepastian mengikuti program yang sesuai ketentuan.
Dengan pendekatan tersebut, peluang ke Jepang diharapkan semakin terbuka bagi generasi muda NTB yang memenuhi persyaratan, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan dana tetapi bersungguh-sungguh mempersiapkan masa depannya.