Mori Hanafi Resmi Masuk Bursa Ketua KONI NTB, Serukan Kontestasi Tanpa Intervensi

Lombok Bicara.com Lombok Bicara.com Lombok Bicara.com
H. Affan menyerahkan berkas pendaftaran pencalonan Mori Hanafi kepada Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) KONI NTB di Sekretariat KONI NTB, Kamis (8/10/2026). (Foto: Istimewa)

MATARAM – Peta perebutan kursi Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai menghangat. H. Mori Hanafi resmi masuk dalam bursa pencalonan setelah berkas pendaftarannya diserahkan tim pengusung kepada Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) KONI NTB, Kamis (8/10/2026).

Pendaftaran berlangsung sekitar pukul 11.00 WITA di Sekretariat TPP, Kantor KONI NTB. Mori Hanafi tidak hadir langsung. Berkas pencalonan diserahkan oleh sejumlah perwakilan cabang olahraga (cabor) dan KONI Kabupaten/Kota yang mengusungnya, dipimpin H. Affan selaku Ketua Tim Pemenangan Mori Hanafi.

Masuknya Mori ke arena kontestasi menambah dinamika menjelang pemilihan Ketua Umum KONI NTB. Namun, lebih dari sekadar perebutan posisi organisasi, kontestasi ini akan menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan arah pembinaan olahraga prestasi NTB, terutama menghadapi agenda besar Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Usai menyerahkan berkas, H. Affan menyebut keputusan Mori Hanafi maju bukan semata-mata ambisi personal. Menurutnya, pencalonan tersebut lahir dari dorongan sejumlah insan olahraga yang menginginkan adanya keberlanjutan dalam pembinaan olahraga prestasi NTB.

“Keputusan Mori Hanafi untuk maju merupakan respons terhadap aspirasi dari insan olahraga NTB yang menginginkan keberlanjutan pembinaan olahraga prestasi,” kata Affan.

Ia menilai tantangan olahraga NTB ke depan tidak sederhana. Persoalannya bukan hanya bagaimana mendatangkan medali dalam sebuah ajang, tetapi bagaimana membangun ekosistem olahraga yang mampu melahirkan atlet berprestasi secara berkelanjutan.

Pembinaan atlet, peningkatan kualitas pelatih, penguatan organisasi cabang olahraga dan KONIDA, hingga kesiapan menghadapi PON 2028, menurut Affan, membutuhkan kepemimpinan KONI yang memahami persoalan olahraga secara menyeluruh.

Karena itu, kontestasi Ketua Umum KONI NTB dinilai semestinya tidak berhenti pada persoalan siapa yang paling banyak mendapatkan dukungan. Lebih jauh, forum tersebut harus menjadi ruang untuk menguji gagasan, rekam pengalaman, kapasitas kepemimpinan, serta kemampuan setiap kandidat membawa olahraga NTB ke level yang lebih tinggi.

Bukan Sekadar Kontestasi Kekuasaan

Affan menyadari seluruh kandidat yang nantinya bertarung memiliki tujuan yang sama, yakni memajukan olahraga NTB.

Ia pun menegaskan dukungan terhadap Mori Hanafi tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Menurutnya, Mori dinilai memiliki pengalaman dan pemahaman yang relevan dengan kebutuhan pembinaan olahraga prestasi serta tantangan NTB menghadapi PON 2028.

“Semua calon tentu memiliki niat dan tujuan yang baik untuk memajukan olahraga NTB. Dukungan terhadap Mori hendaknya ditempatkan sebagai bagian dari proses demokrasi olahraga, bukan menjadi alasan untuk memecah persaudaraan di antara insan olahraga NTB,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting di tengah semakin menghangatnya dinamika menjelang pemilihan. Sebab, organisasi olahraga dengan banyak cabang dan kepentingan seperti KONI membutuhkan lebih dari sekadar kemenangan dalam kontestasi.

Yang dibutuhkan setelah pemilihan adalah kemampuan menyatukan kembali seluruh kekuatan olahraga NTB dalam satu agenda bersama.

Soroti Isu Intervensi

Di sisi lain, Affan secara terbuka menyinggung isu yang belakangan menjadi pembicaraan di tengah proses pencalonan, yakni munculnya selentingan mengenai kemungkinan intervensi kekuasaan dalam pemilihan Ketua Umum KONI NTB.

Ia tidak menuduh pihak tertentu. Namun, Affan mengingatkan agar seluruh tahapan pemilihan tetap berjalan dalam koridor aturan organisasi dan menjunjung tinggi prinsip sportivitas.

“Proses pemilihan hendaknya berjalan secara demokratis, transparan, sesuai aturan organisasi, dan menghormati aspirasi cabang olahraga serta KONIDA,” tegasnya.

Bagi Affan, isu tersebut perlu menjadi perhatian seluruh pihak. Sebab, KONI merupakan rumah besar olahraga prestasi yang semestinya memberi ruang bagi proses organisasi yang sehat.

“Olahraga adalah tentang sportivitas. Karena itu, biarkan proses ini berjalan secara fair dan mengalir sesuai mekanisme organisasi. Jangan sampai ada intervensi atau sikap-sikap yang justru mencederai nilai sportivitas dalam olahraga,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa kontestasi Ketua Umum KONI NTB seharusnya tidak berubah menjadi pertarungan kepentingan di luar kepentingan olahraga.

Sebab, siapa pun yang nantinya memenangkan pemilihan akan memikul pekerjaan besar: memastikan pembinaan atlet berjalan, menguatkan cabor dan KONIDA, serta menyiapkan kekuatan terbaik NTB menghadapi PON 2028.

Setelah Kontestasi, Semua Harus Bersatu

Affan juga menegaskan pihaknya siap menghormati apa pun hasil pemilihan nantinya.

Menurut dia, kontestasi adalah bagian dari dinamika organisasi. Setelah keputusan diambil, seluruh insan olahraga NTB harus kembali berada dalam satu barisan.

“Siapa pun yang nantinya terpilih sebagai Ketua Umum KONI NTB harus dihormati dan didukung bersama. Kontestasi dalam pemilihan adalah bagian dari dinamika organisasi, sementara persatuan dan kemajuan olahraga NTB merupakan kepentingan yang jauh lebih besar,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi relevan karena tantangan olahraga NTB ke depan tidak kecil. PON 2028 sudah berada di depan mata. Waktu untuk membangun kekuatan atlet, memperbaiki sistem pembinaan dan mempersiapkan kontingen semakin terbatas.

Dengan demikian, pemilihan Ketua Umum KONI NTB bukan hanya tentang siapa yang berhasil mengamankan dukungan terbanyak, tetapi juga tentang siapa yang mampu menawarkan arah kepemimpinan dan strategi pembinaan yang paling meyakinkan.

Affan berharap seluruh tahapan pemilihan dapat berlangsung dengan dewasa dan bermartabat. Setelah kontestasi berakhir, tidak boleh ada lagi sekat antara pendukung kandidat.

“Karena olahraga bukan sekadar tentang siapa yang terpilih, tetapi tentang bagaimana kita bersama-sama menjaga masa depan olahraga NTB,” tandasnya.

Tutup