Kamis, 15 Januari 2026 | 21.22 WITA
Ekobis  

Harga Cabai Rawit Meroket Jelang Nataru, Pemkab Lombok Barat Gelar Sidak Pasar

Kepala Dinas Perindag Lombok Barat, Lalu Agha Farabi, saat memberikan keterangan terkait lonjakan harga cabai rawit menjelang Nataru. (Foto: Istimewa)

Lombok Barat – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pasar tradisional. Hasil pemantauan menunjukkan adanya lonjakan harga yang signifikan pada komoditas cabai rawit merah, yang kini menembus angka Rp90.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindag Lombok Barat, Lalu Agha Farabi, menjelaskan bahwa sidak yang turut dihadiri oleh Wakil Bupati Lombok Barat tersebut menyasar dua lokasi representatif, yakni Pasar Gerung (wilayah Selatan) dan Pasar Narmada (wilayah Utara). Fokus utama sidak adalah mengecek ketersediaan stok dan stabilitas harga bahan pokok.

Lalu Agha mengungkapkan bahwa mayoritas komoditas inti memiliki stok yang aman. Namun, fluktuasi harga yang tajam terjadi pada komoditas bumbu-bumbuan, khususnya cabai rawit merah.

“Terutama cabai rawit merah. Di akhir November harganya masih Rp55 ribu. Kemarin naik menjadi Rp80 ribu sampai Rp85 ribu. Bahkan hari ini informasinya sudah naik lagi mencapai Rp90 ribu, ada juga yang Rp95 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram,” ujar Lalu Agha saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (10/12/25).

Selain cabai, komoditas bawang merah dan bawang putih juga mengalami kenaikan berkisar antara Rp5.000 hingga Rp7.000. Kendati demikian, Agha menilai kenaikan pada bawang masih dalam batas wajar dan normal.

Terkait penyebab lonjakan harga cabai yang drastis, Lalu Agha menegaskan bahwa hal tersebut murni disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem (hidrometeorologi). Tingginya curah hujan menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen dan menghambat distribusi pasokan dari luar daerah.

“Tidak ada permainan distributor, tidak ada permainan di bawah atau penimbunan. Ini murni karena pengaruh cuaca yang membuat pasokan terganggu. Karena pasokan terganggu dan permintaan tinggi, otomatis harga naik,” tegasnya.

Di tengah lonjakan harga bumbu dapur, harga komoditas beras di Lombok Barat terpantau stabil. Agha memastikan harga beras baik jenis Premium, Medium, maupun SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Alhamdulillah untuk komoditi inti seperti beras tidak mengalami kenaikan. Ini penting karena beras memiliki bobot penyumbang inflasi terbesar,” tambahnya.

Sebagai langkah taktis untuk menekan harga dan menjaga daya beli masyarakat, TPID Lombok Barat telah menyiapkan serangkaian intervensi. Pemerintah daerah menggandeng Badan Pangan Nasional (Bapanas), BUMN, dan BUMD untuk menggelar operasi pasar.

“TPID sudah mengagendakan operasi pasar ke 10 kecamatan untuk menyambut Nataru dan menekan harga komoditi yang fluktuatif ini. Polanya bisa dengan subsidi atau skema lainnya untuk membantu masyarakat,” jelas Agha.

Dalam pelaksanaannya, Disperindag akan berkoordinasi dengan para distributor mitra, sementara Dinas Pertanian akan bergerak bersama para petani untuk mengamankan rantai pasok.

Menutup keterangannya, Lalu Agha berharap cuaca segera kembali normal agar harga dapat berangsur stabil. Ia juga mengimbau keras kepada para pedagang dan distributor untuk tidak memanfaatkan situasi ini dengan menaikkan harga secara tidak wajar.