Kamis, 12 Februari 2026 | 07.15 WITA
NTB  

Bukan Janji! Lombok Barat Tuntaskan Manasik, 837 Jemaah Tinggal Berangkat

Plt Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemnhaj) Lombok Barat, H. Suparlan, saat menyampaikan keterangan terkait kesiapan pemberangkatan 837 jemaah haji usai rampungnya seluruh tahapan manasik haji, Selasa (10/2). (Foto: istimewa)

Lombok Barat – Kabupaten Lombok Barat mencatatkan prestasi gemilang dalam persiapan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Di bawah komando Plt. Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh (Kemnhaj) Lombok Barat, H. Suparlan, S.Pd.I., M.Si., daerah ini menjadi yang pertama di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang merampungkan seluruh tahapan bimbingan manasik haji, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.

“Alhamdulillah, Lombok Barat pertama yang sudah menyelesaikan bimsik (bimbingan manasik). Di kabupaten lain, pantauan kami baru mulai hari ini. Ini bagian dari kerja nyata kita sesuai tagar Bapak Bupati, yakni ‘Kerja Nyata Ingin Maju, Jadi Kita Nomor Satu’,” ujar Suparlan saat ditemui di kantornya, Selasa (10/2).

Untuk musim haji tahun ini, Kabupaten Lombok Barat akan memberangkatkan total 837 jemaah haji, meningkat signifikan sebanyak 195 jemaah dibandingkan tahun sebelumnya. Seluruh jemaah dipastikan telah terbagi ke dalam tiga kelompok terbang (kloter) yang sudah bersifat tetap (fix).

“Jadwal sudah clear. Jemaah Lombok Barat akan masuk di Kloter 3, Kloter 8, dan Kloter 15. Semua persiapan administrasi dan pengorganisasian jemaah sudah selesai sebelum memasuki bulan suci Ramadan,” tambah Suparlan.

Tahun ini, penyelenggaraan haji mengusung tema “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan”. Strategi khusus telah disiapkan untuk memastikan jemaah lanjut usia (lansia) mendapatkan pelayanan terbaik. Sebagai informasi, jemaah tertua asal Lombok Barat berusia 89 tahun, sementara yang termuda berusia 22 tahun.

Manajemen lapangan diperkuat dengan skema pendampingan ketat:

  • Prioritas Layanan: Penempatan kursi dan barisan prioritas bagi lansia.
  • Peran Karu dan Karo: Ketua Regu (Karu) dan Ketua Rombongan (Karo) yang lebih muda diinstruksikan wajib mendampingi dan mengurus jemaah lansia.
  • Petugas Profesional: Keberangkatan akan didampingi tim lengkap mulai dari TPHI (Ketua Kloter), TPIHI (Pembimbing Ibadah), hingga TKHI (Dokter dan Perawat).

Suparlan menegaskan bahwa kendala visa yang sering terjadi di tahun-tahun sebelumnya telah dimitigasi sejak dini. Proses request visa telah tuntas pada 8 Februari, dan per tanggal 9 Februari, visa sudah mulai dicetak.

Terkait kuota, Lombok Barat juga menyiapkan sekitar 400 jemaah cadangan. Saat ini, sebanyak 76 jemaah cadangan telah resmi naik status menjadi jemaah berangkat menggantikan posisi jemaah reguler yang menunda keberangkatan atau tidak lolos syarat kesehatan (istitha’ah).

Mengingat ibadah haji adalah perjalanan fisik sekaligus spiritual, Suparlan mengimbau para jemaah untuk menjaga kebugaran tubuh.

“Kami sarankan jemaah rutin olahraga ringan, minimal jalan kaki 30 menit setiap hari sesuai anjuran dokter. Gunakan waktu di bulan Ramadan nanti untuk memperdalam ilmu manasik dan berdoa agar perjalanan dipermudah,” pesannya.

Menutup keterangannya, Suparlan memberikan kabar baik bagi masyarakat yang ingin mendaftar. Meski saat ini antrean di NTB mencapai puluhan tahun, ia optimis masa tunggu akan terpangkas berkat visi 2030 Arab Saudi dan ikhtiar Presiden Prabowo Subianto dalam membangun sinergi perhajian.

“Kami sarankan mendaftar sejak muda. Pendaftaran bisa dilakukan mulai usia 12 tahun. Dengan kuota yang diprediksi terus bertambah, masa tunggu yang sekarang 26 tahun bisa saja terpangkas menjadi hanya 10 tahun di masa depan,” pungkasnya.