Sumbawa Barat – Ruas Jalan Simpang Pototano di Kabupaten Sumbawa Barat kembali menjadi perhatian Pemerintah Provinsi NTB. Jalan yang menghubungkan Pulau Sumbawa dengan Pelabuhan Pototano menuju Pulau Lombok itu resmi dioperasikan kembali setelah menjalani proyek revitalisasi besar-besaran pada 2025.
Jalan sepanjang sekitar empat kilometer ini sebelumnya dikenal sebagai titik rawan genangan air. Sejak 2017, sistem drainase yang tidak berfungsi optimal menyebabkan air hujan kerap menggenangi badan jalan. Kondisi tersebut mempercepat kerusakan lapisan aspal dan menurunkan kualitas jalan secara signifikan.
Meski masih dapat dilalui, tingkat kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan terus menurun dari tahun ke tahun. Hal ini mendorong Pemprov NTB memasukkan ruas Pototano sebagai salah satu prioritas penanganan infrastruktur pada 2025 dengan anggaran mencapai Rp32 miliar.
Proyek tersebut dikerjakan selama tiga setengah bulan dan rampung pada akhir Desember 2025. Gubernur NTB, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, meresmikan langsung jalan tersebut saat melakukan perjalanan lintas Pulau Sumbawa–Lombok.
“Jalan ini sebelumnya tidak bisa digunakan secara optimal. Sekarang sudah bisa dimanfaatkan masyarakat dengan lebih aman dan nyaman,” kata Gubernur Iqbal.
Menurutnya, pekerjaan tidak hanya fokus pada perbaikan badan jalan, tetapi juga menyentuh aspek krusial lain seperti sistem drainase dan penerangan jalan. Ia menilai perbaikan drainase menjadi kunci utama agar persoalan genangan air tidak kembali terulang.
Namun, dalam proses pembangunan, terdapat satu titik yang mengalami kendala akibat kondisi tanah yang tidak stabil. Titik tersebut sempat beberapa kali mengalami longsor kecil sebelum akhirnya ditangani oleh pihak kontraktor.
“Secara teknis sudah sesuai perencanaan. Titik yang rawan itu akan terus kita awasi selama masa pemeliharaan enam bulan,” jelasnya.
Gubernur Iqbal juga mengingatkan bahwa keberhasilan infrastruktur jalan tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan sekitar. Jika drainase di pemukiman warga tidak dibersihkan, maka air akan kembali menumpuk di saluran utama jalan.
“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat. Drainase lingkungan harus dijaga,” tegasnya saat memeriksa saluran air di sepanjang jalan.
Data Pemprov NTB mencatat total panjang jalan di Pulau Sumbawa sekitar 965 kilometer. Dengan keterbatasan fiskal, pemerintah memprioritaskan perbaikan ruas-ruas yang tidak bisa dilalui atau memiliki fungsi strategis tinggi.
Pototano dipilih karena merupakan jalur utama logistik dan mobilitas antarpulau. Jalur ini menjadi tumpuan distribusi bahan pangan, barang kebutuhan pokok, serta pergerakan masyarakat dari dan ke Pulau Lombok.
Selain Pototano, Pemprov NTB juga menangani ruas Dasan Geres di Lombok Timur dan beberapa titik lain yang dinilai berperan penting dalam sistem logistik daerah.
Ke depan, setelah jalur distribusi utama tertangani, Pemprov NTB akan mulai mengalihkan fokus ke jalur-jalur pariwisata guna mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis wisata.
“Kita ingin pembangunan jalan ini benar-benar tahan lama. Harapannya, manfaatnya bisa dirasakan bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk tahun-tahun ke depan,” ujar Gubernur Iqbal.





