Jumat, 16 Januari 2026 | 01.52 WITA
Ekobis  

Akhirnya Teraliri Listrik! Empat Sekolah Terpencil di Bima Kini Hidup Lagi Berkat SUPERSUN

Tim PLN melakukan konfigurasi perangkat SUPERSUN untuk memastikan pasokan listrik mandiri berjalan optimal di sekolah penerima manfaat. (Dok. PLN)

Bima – Perjalanan menuju pendidikan modern di wilayah-wilayah terpencil kini memasuki babak baru. PT PLN (Persero) UIW NTB melalui UP3 Bima kembali menyalurkan sistem pembangkit listrik tenaga surya SUPERSUN untuk empat sekolah yang selama ini hidup dalam keterbatasan energi. Ini menjadi langkah strategis PLN dalam mendukung ekosistem pembelajaran digital di daerah tertinggal.

SMPN 8 Lambu, SMPN 10 Satu Atap Lambu, SDN Tongga, dan SDN Tambora menjadi penerima manfaat program yang berorientasi pada energi bersih tersebut. Selama ini, ketidaktersediaan listrik membuat sekolah hanya mengandalkan cahaya alami dan genset yang tidak stabil. Kondisi tersebut menghambat kegiatan belajar mengajar, terutama saat kurikulum menuntut adaptasi teknologi.

Dengan pemasangan SUPERSUN yang terdiri dari panel surya 2×550 W, baterai 2.350 Wh, dan kWh meter 1.300 VA, kini seluruh sekolah tersebut memiliki sumber energi mandiri yang mampu menyuplai listrik hingga delapan jam pemanfaatan sehari. Sistem ini dirancang untuk mendukung penerangan, perangkat belajar digital, serta fasilitas ruang guru.

Data PLN menunjukkan bahwa 72 siswa dan 37 guru kini menikmati manfaat langsung dari hadirnya energi bersih ini. Ketersediaan listrik membuat ruang kelas dapat beroperasi lebih efektif, proses belajar lebih interaktif, dan sekolah dapat mulai memanfaatkan media pembelajaran digital yang sebelumnya mustahil dilakukan.

Tantangan terbesar terdapat pada akses menuju lokasi. Rute menuju SDN Tambora misalnya, harus ditempuh sejauh 138 km dari ULP Dompu dengan medan yang berat dan jauh dari permukiman padat. Begitu pula perjalanan ke SDN Tongga yang membutuhkan waktu sekitar satu jam 15 menit, serta SMPN 8 Lambu dan SMPN 10 Lambu yang berlokasi di perbukitan.

Selain membuka akses pendidikan, SUPERSUN turut memangkas ketergantungan sekolah terhadap genset. Dengan kapasitas sistemnya, setiap sekolah dapat menghemat solar hingga 24 liter per hari. Emisi karbon pun turun drastis, mencapai pengurangan 1.470 kg CO₂ setahun per unit kontribusi nyata bagi keberlanjutan energi di NTB.

General Manager PLN UIW NTB, Sri Heny Purwanti, menegaskan bahwa pemerataan akses energi merupakan prioritas utama. “Kami ingin memastikan anak-anak Indonesia, di manapun mereka berada, mendapatkan kesempatan belajar yang sama. SUPERSUN adalah wujud kepedulian PLN terhadap masa depan pendidikan di pelosok,” katanya.

Ia menambahkan bahwa PLN akan terus mencari terobosan untuk memperluas penggunaan energi terbarukan. “Kami optimistis bahwa dengan kolaborasi bersama Pemerintah, seluruh wilayah NTB dapat teraliri energi bersih yang andal dan inklusif,” tutupnya.