Selasa, 5 Mei 2026 | 18.48 WITA
NTB  

Tanpa Pembatasan, Pengiriman Ternak NTB Tembus 30 Ribu Ekor Jelang Idul Adha

Ketua Tim Kerja Karantina Hewan NTB, Amirullah, saat memberikan keterangan terkait pengawasan dan pengiriman ternak jelang Idul Adha di Lombok Barat. (Foto: istimewa)

LOMBOK BARAT – Kepala Karantina NTB, Ina Soelistyani, melalui Ketua Tim Kerja Karantina Hewan, Amirullah, menegaskan bahwa pihaknya tidak memberlakukan pembatasan jumlah maupun jenis hewan ternak yang dilalulintaskan melalui Pelabuhan Lembar menjelang Idul Adha.

“Untuk pembatasan jumlah maupun jenis hewan, tidak ada. Kami tidak membatasi ternak yang keluar masuk. Yang dicegah itu adalah penyebaran penyakitnya, bukan hewannya. Saat ini penyakit yang menjadi perhatian pemerintah adalah PMK, LSD, dan penyakit berisiko lainnya,” ujar Amirullah.

Ia menegaskan, hingga saat ini tidak ditemukan kasus penyakit pada hewan yang dilalulintaskan melalui karantina. “Temuan penyakit tidak ada di instalasi karantina. Kalaupun ada hewan yang terlihat lemas sebelum diberangkatkan, itu langsung ditahan dan tidak diizinkan berangkat karena yang dilalulintaskan harus dalam kondisi sehat,” jelasnya.

Menurutnya, seluruh hewan yang dikirim telah melalui prosedur ketat. “Semua ternak yang berangkat sudah dilakukan pemeriksaan fisik, dikarantina, serta diuji laboratorium, termasuk PCR untuk PMK. Ini untuk memastikan tidak ada penyebaran penyakit,” tambahnya.

Terkait pengiriman tanpa dokumen, Amirullah memastikan tidak ada pelanggaran yang ditemukan. “Sampai saat ini tidak ada pengiriman tanpa dokumen. Para pelaku usaha sudah memahami kewajiban mereka. Bahkan data pengiriman kami kirim ke daerah tujuan seperti Jawa Timur untuk dilakukan pengecekan ulang kesesuaiannya,” tegasnya.

Ia menyebutkan, jumlah pengiriman ternak hingga saat ini telah mencapai puluhan ribu ekor. “Per hari ini, jumlah ternak yang keluar sudah sekitar 26 ribu ekor, mayoritas menuju Jabodetabek, serta sebagian ke Lampung, Sumatera, Kalimantan, dan wilayah lainnya. Jika ditotal keseluruhan, bisa mencapai sekitar 30 ribu ekor,” ungkapnya.

Hewan ternak tersebut berasal dari berbagai daerah di NTB, seperti Bima, Dompu, dan Sumbawa. “Dari Lombok juga ada, tetapi tidak terlalu banyak, sebagian besar justru dikirim ke Kalimantan,” katanya.

Ia menjelaskan, prosedur pengiriman tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku. “Pengiriman wajib dilengkapi Sertifikat Karantina dan sertifikat veteriner dari dinas terkait, serta didukung hasil uji laboratorium seperti PCR. Yang terpenting adalah kondisi hewan harus sehat,” ujarnya.

Amirullah juga mengungkapkan bahwa puncak pengiriman terjadi beberapa waktu lalu. “Puncaknya sudah lewat, sekitar tanggal 25. Biasanya pengiriman untuk Idul Adha berhenti sekitar 10 hari sebelum hari H. Saat ini sudah mulai melandai, meskipun pengiriman reguler tetap berjalan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kelancaran distribusi juga didukung oleh koordinasi lintas instansi. “Kami bekerja sama dengan dinas peternakan, kepolisian, KSOP, serta instansi terkait lainnya. Pengaturan distribusi dilakukan agar tidak terjadi penumpukan di pelabuhan, dan alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar,” pungkasnya.