MATARAM – Upaya membenahi sistem sanitasi perkotaan di Mataram memasuki fase krusial. Proyek pembangunan jaringan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal yang selama ini menjadi perhatian publik, kini resmi memasuki tahap pelaksanaan setelah penandatanganan kontrak dua paket utama.
Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) NTB, Dades Prinandes, mengungkapkan bahwa pekerjaan dibagi dalam dua paket strategis, yakni CWIM-02 dan CWIM-03, dengan total nilai mencapai puluhan juta dolar Amerika Serikat.
Paket CWIM-02 dipercayakan kepada PT Nindya Karya, sementara paket CWIM-03 dikerjakan konsorsium PT Adhi Karya, PT Brantas Abipraya, dan mitra swasta.
Penunjukan tersebut dilakukan melalui tender internasional berbasis elektronik, mengacu pada standar pembiayaan dari Asian Development Bank (ADB).
Langkah Awal yang Belum Mulus
Meski kontrak telah efektif, pelaksanaan di lapangan belum sepenuhnya berjalan optimal. Paket CWIM-02 baru mencatat progres 0,21 persen. Mobilisasi yang berdekatan dengan momentum hari raya serta belum meratanya penerimaan masyarakat menjadi faktor penghambat awal.
Kondisi ini menjadi alarm dini bagi pelaksanaan paket berikutnya. Pemerintah menegaskan pendekatan sosial akan diperkuat, mengingat proyek ini bersentuhan langsung dengan kawasan padat penduduk.
Intervensi Infrastruktur Skala Kota
Jaringan perpipaan yang dibangun bukan proyek kecil. Total panjang mencapai lebih dari 60 kilometer, menyasar kawasan Ampenan dan Sekarbela dua wilayah dengan tingkat kepadatan tinggi.
Intervensi ini menjadi bagian dari transformasi sistem sanitasi kota, dari pola individual menuju sistem terpusat yang lebih modern dan berkelanjutan.
Taruhan Besar Hingga 2030
Dengan target penyelesaian pada pertengahan 2030, proyek ini menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas lingkungan kota. Pemerintah menjanjikan perlindungan air tanah, penurunan risiko penyakit, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Namun demikian, besarnya anggaran dan kompleksitas pekerjaan menempatkan proyek ini dalam sorotan. Pengawasan berlapis, mulai dari konsultan hingga aparat penegak hukum, menjadi kunci agar pelaksanaan tetap on track.
Di titik ini, proyek IPAL Mataram bukan sekadar pembangunan infrastruktur melainkan ujian nyata bagi tata kelola proyek publik berskala internasional.





