Sabtu, 2 Mei 2026 | 21.37 WITA

Dari Kekalik Jaya Menuju Tanah Suci: Doa, Air Mata, dan Harapan Mengiringi 11 Jamaah Haji

Suasana haru saat pelepasan jamaah calon haji di Masjid Al-Mabrur, Kekalik Timur, Jumat (1/5/2026). (Foto: istimewa)

MATARAM – Langit siang di kawasan Kekalik Timur seolah menjadi saksi bisu perpisahan yang sarat makna. Usai salat Jumat, Masjid Al-Mabrur dipenuhi suasana haru saat sembilan jamaah calon haji asal Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela, dilepas menuju perjalanan suci mereka ke Tanah Suci, Jumat (1/5/2026).

Tak ada kemegahan berlebih dalam prosesi tersebut. Namun justru dalam kesederhanaan itulah, makna pelepasan terasa begitu dalam. Keluarga, kerabat, hingga warga sekitar larut dalam doa yang dipanjatkan bersama. Sejumlah jamaah tampak menahan haru, sementara keluarga yang ditinggalkan tak kuasa menyembunyikan rasa bangga bercampur sedih.

Secara keseluruhan, jumlah jamaah haji asal Kelurahan Kekalik Jaya tahun ini mencapai 11 orang, yakni Hardi Japar, Yuliatin Fajriah, Heni Widianingsih, Hanan, Sahani, Nurhidayati, Agus Bajuri, Nasrun, Musni, Ismail, dan Suryani. Dari total tersebut, 9 jamaah tergabung dalam Kloter 10, sementara 2 jamaah lainnya telah lebih dahulu berangkat melalui Kloter 5.

Mereka akan segera bergabung dengan rombongan haji lainnya dari Nusa Tenggara Barat. Bagi para jamaah, perjalanan ini bukan sekadar keberangkatan biasa, melainkan puncak dari penantian panjang dan ikhtiar spiritual yang telah lama dipersiapkan.

Tokoh agama setempat, M. Rasasul, dalam pesannya menegaskan bahwa kesempatan menunaikan ibadah haji adalah anugerah yang patut disyukuri. Ia mengajak para jamaah untuk menjaga niat dan kekhusyukan selama berada di Tanah Suci.

“Para tamu Allah di Kelurahan Kekalik Jaya, selamat berhaji. Semoga perjalanan suci ini menjadi wasilah meraih rida Allah SWT, serta mendapatkan predikat haji mabrur dan mabruroh,” ujarnya di hadapan jamaah dan masyarakat yang hadir.

Pelepasan tersebut juga dihadiri oleh tokoh agama serta para kepala lingkungan, yang turut memberikan doa dan dukungan moral. Kehadiran mereka mempertegas bahwa keberangkatan jamaah haji bukan hanya urusan pribadi, melainkan kebanggaan kolektif masyarakat.

Rangkaian acara berlangsung singkat, diawali dengan doa bersama yang khidmat, kemudian dilanjutkan dengan momen saling bersalaman dan berpamitan. Di titik inilah suasana haru mencapai puncaknya pelukan erat, linangan air mata, serta doa-doa lirih mengiringi langkah para jamaah.

Bagi warga Kekalik Jaya, momen ini selalu menjadi pengingat akan nilai kebersamaan dan keikhlasan. Setiap tahun, pelepasan jamaah haji menjadi ruang spiritual yang mempertemukan harapan, doa, dan rasa syukur dalam satu ikatan yang kuat.

Kini, sebelas jamaah tersebut membawa serta doa dari kampung halaman. Di pundak mereka, terselip harapan keluarga dan masyarakat agar dapat menunaikan ibadah dengan lancar, serta kembali dalam keadaan sehat dengan predikat haji yang mabrur.