Bukan Sekadar Berebut Gelar, RIMO Badminton Cup 2026 Pererat Silaturahmi Antarkampus di NTB
MATARAM – Kompetisi olahraga kerap diidentikkan dengan kemenangan, gelar juara dan persaingan. Namun, RIMO Badminton Cup 2026 yang mempertemukan enam perguruan tinggi se-Nusa Tenggara Barat membawa pesan yang lebih luas: pertandingan dapat menjadi medium untuk mempertemukan orang-orang dari lingkungan akademik dalam suasana yang sehat dan penuh kebersamaan.
Kejuaraan yang digelar Bank NTB Syariah tersebut mempertemukan bukan hanya mahasiswa, tetapi juga dosen dan karyawan perguruan tinggi. Pembagian kategori itu membuat arena pertandingan menjadi ruang interaksi lintas generasi sekaligus memperluas keterlibatan civitas akademika.
RIMO Badminton Cup 2026 resmi dibuka oleh Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko Bank NTB Syariah, Ferry Ardiansyah, pada 7 September 2026. Pembukaan turut dihadiri Rektor Universitas Mataram Prof. Dr. Sukardi, S.Pd., M.Pd., Rektor Universitas Bumigora Mataram Prof. Dr. Ir. Anthony Anggrawan, M.T., Ph.D., serta sejumlah pejabat eksekutif dan perwakilan perguruan tinggi di NTB.
Format pertandingan menjadi salah satu hal yang membedakan ajang tersebut. Bank NTB Syariah tidak hanya menyediakan kategori antar-mahasiswa, tetapi juga mempertandingkan kategori antar-dosen dan karyawan perguruan tinggi.
Dengan format tersebut, semangat kompetisi tidak hanya hidup di kalangan mahasiswa. Para dosen dan karyawan juga mendapat kesempatan untuk turun langsung, berinteraksi dan membangun hubungan dengan rekan-rekan dari perguruan tinggi lainnya.
Ferry Ardiansyah mengatakan, nilai utama yang ingin dibangun melalui kegiatan itu adalah silaturahmi dan kebersamaan.
“RIMO Badminton Cup kami harapkan menjadi ruang silaturahmi, bukan hanya bagi mahasiswa, melainkan juga para dosen dan karyawan antar-perguruan tinggi,” ujarnya.
Menurut Ferry, kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah pertandingan. Olahraga juga memberikan pelajaran mengenai bagaimana seseorang menghadapi persaingan dengan tetap menjaga sikap dan menghormati lawan.
“Dalam pertandingan tentu ada yang menang dan kalah. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kita menjadikan kompetisi ini sebagai sarana membangun persahabatan dan memperkuat sinergi,” katanya.
Pesan itu menjadi relevan karena lingkungan perguruan tinggi pada dasarnya tidak hanya membentuk kemampuan akademik. Nilai kedisiplinan, integritas, kerja sama dan kemampuan membangun relasi juga menjadi bagian dari proses pembentukan sumber daya manusia.
Melalui olahraga, nilai-nilai tersebut hadir dalam bentuk yang lebih praktis. Pemain dituntut disiplin, mampu bekerja sama, menghormati keputusan pertandingan dan menerima hasil kompetisi dengan sikap sportif.
Rektor Universitas Mataram Prof. Dr. Sukardi, S.Pd., M.Pd. menyambut positif penyelenggaraan RIMO Badminton Cup. Ia melihat pertandingan antarkampus sebagai ruang yang dapat mempertemukan civitas akademika dalam suasana berbeda dari rutinitas akademik.
“Kegiatan seperti ini tidak hanya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berprestasi di bidang olahraga, tetapi juga mempertemukan civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi dalam semangat kebersamaan,” ujarnya.
Ia juga menilai keterlibatan dosen dan karyawan membuat kegiatan menjadi semakin inklusif. Menurutnya, ajang tersebut diharapkan dapat terus dilaksanakan dan berkembang menjadi agenda tahunan.
Hal senada disampaikan Rektor Universitas Bumigora Mataram Prof. Dr. Ir. Anthony Anggrawan, M.T., Ph.D. Menurutnya, pertemuan antarkampus melalui olahraga menjadi bentuk kolaborasi yang positif.
“RIMO Badminton Cup menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang sangat positif karena mempertemukan perguruan tinggi tidak hanya dalam konteks akademik, tetapi juga melalui olahraga dan silaturahmi,” katanya.
Harapan agar kegiatan terus berkembang menjadi catatan penting dari penyelenggaraan tahun ini. Sebab, semakin banyak perguruan tinggi yang terlibat, semakin besar pula ruang interaksi yang tercipta.
Bagi Bank NTB Syariah, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dengan perguruan tinggi. Namun, pendekatan yang dibangun tidak hanya melalui aktivitas olahraga.
Campus Partnership diarahkan untuk membuka peluang kerja sama yang lebih luas, termasuk literasi dan inklusi keuangan, digitalisasi pembayaran, kewirausahaan mahasiswa, edukasi perbankan syariah serta kegiatan sosial.
Dengan demikian, raket dan shuttlecock yang digunakan dalam pertandingan hanya menjadi bagian dari cerita. Di balik pertandingan tersebut terdapat upaya membangun komunikasi antarkampus dan memperluas ruang kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia perbankan.
RIMO Badminton Cup 2026 memperlihatkan bahwa lapangan olahraga dapat menjadi ruang sederhana untuk membangun hubungan yang lebih besar. Dari pertandingan lahir perjumpaan, dari perjumpaan tumbuh komunikasi, dan dari komunikasi terbuka peluang kerja sama.