36 Personel di Balik Layar Kendali Listrik NTB, PLN Terapkan Sistem Kerja Empat Shift

Lombok Bicara.com Lombok Bicara.com Lombok Bicara.com
Direktur Distribusi PLN Arsyadany G. Akmalaputri bersama jajaran manajemen meninjau operasional Centralized Command Center PLN UIW NTB. (Dok. PLN)

MATARAM – Di balik layanan listrik yang diharapkan masyarakat tetap menyala dan andal, ada sistem pengawasan yang bekerja tanpa mengenal jeda. PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (UIW NTB) kini memperkuat mekanisme tersebut melalui pengoperasian Centralized Command Center di lingkungan PLN UP2D NTB.

Pusat kendali yang diresmikan pada 10 September 2026 itu tidak hanya mengandalkan perangkat dan teknologi. PLN menempatkan sumber daya manusia sebagai bagian penting dari sistem tersebut dengan menyiapkan 36 personel yang bertugas memastikan informasi operasional dapat diterima, dipantau, dikoordinasikan dan diteruskan secara berkesinambungan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 pegawai ditempatkan sebagai personel Centralized Command Center dan delapan lainnya menjalankan fungsi callback. Seluruhnya bekerja dengan sistem empat shift, yakni tiga shift bertugas dan satu shift mendapatkan waktu libur.

Pola kerja tersebut menjadi gambaran bahwa pengelolaan sistem distribusi listrik membutuhkan kesiapan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga organisatoris.

Ketika informasi mengenai kondisi jaringan, pelayanan maupun kebutuhan tindak lanjut muncul, kecepatan dalam meneruskan informasi menjadi salah satu faktor penting. Centralized Command Center dirancang untuk memastikan proses tersebut berlangsung dalam satu alur koordinasi yang lebih terstruktur.

Direktur Distribusi PT PLN (Persero) Arsyadany G. Akmalaputri mengatakan, pusat kendali tersebut merupakan bagian dari transformasi PLN dalam membangun pengelolaan kelistrikan yang semakin terintegrasi.

“Centralized Command Center bukan hanya mengenai fasilitas dan teknologi, tetapi bagaimana data dan informasi dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan respons operasional yang lebih cepat, tepat, dan terukur,” ujar Arsyadany.

Ia berharap integrasi pengelolaan informasi dapat membuat koordinasi antarunit PLN semakin efektif sehingga berdampak terhadap peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan.

Di tingkat operasional, Manager PLN UP2D NTB Faris Fitrianto menilai kehadiran Centralized Command Center memberikan penguatan terhadap proses kerja pengaturan distribusi.

Menurut dia, keberadaan fasilitas tersebut harus berjalan beriringan dengan kesiapan personel yang memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing.

“Kami melihat Centralized Command Center sebagai penguatan proses kerja, bukan sekadar penambahan fasilitas. Dengan dukungan sistem yang terintegrasi, personel yang kompeten, serta pola kerja shift yang terstruktur, kami dapat mempercepat alur informasi dan koordinasi,” kata Faris.

Penerapan empat shift menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga kesinambungan fungsi pusat kendali. Tiga kelompok personel menjalankan tugas secara bergantian, sementara satu kelompok mendapatkan waktu libur sebelum kembali masuk dalam siklus berikutnya.

Dengan skema itu, monitoring dan koordinasi dapat berlangsung secara berkelanjutan. Fungsi callback juga menjadi bagian dari mekanisme untuk memastikan informasi yang membutuhkan komunikasi atau tindak lanjut dapat ditangani melalui jalur yang telah disiapkan.

General Manager PLN UIW NTB Yondri Zulfadli mengatakan, penguatan sistem dan SDM tersebut merupakan bagian dari upaya membangun tata kelola kelistrikan yang semakin adaptif terhadap kebutuhan pelanggan dan perkembangan teknologi.

“Dengan dukungan 28 personel Centralized Command Center, 8 personel callback, serta sistem kerja 4 shift, kami ingin memastikan informasi dapat dikelola secara cepat, koordinasi berjalan efektif, dan setiap kebutuhan operasional mendapatkan tindak lanjut yang tepat,” ujar Yondri.

Menurut Yondri, teknologi tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa didukung pola kerja dan personel yang mampu mengoperasikannya secara konsisten.

Karena itu, Centralized Command Center dibangun sebagai sebuah ekosistem kerja. Data menjadi bahan informasi, teknologi menjadi perangkat pendukung, sementara personel menjadi penggerak yang memastikan informasi tersebut berujung pada tindakan operasional.

Penguatan ini sekaligus memperlihatkan perubahan cara PLN dalam mengelola sistem distribusi. Pengendalian tidak hanya dilakukan berdasarkan respons setelah persoalan muncul, tetapi diperkuat melalui kemampuan monitoring dan koordinasi yang lebih terpusat.

Bagi masyarakat NTB, proses yang berlangsung di balik layar tersebut mungkin tidak selalu terlihat. Namun, efektivitasnya diharapkan terasa melalui pelayanan yang lebih cepat, koordinasi yang lebih baik dan keandalan pasokan listrik yang terus dijaga.

“Pada akhirnya, seluruh upaya ini kami arahkan untuk menghadirkan layanan kelistrikan yang semakin andal, responsif, dan memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan,” kata Yondri.

Tutup