Kamis, 15 Januari 2026 | 21.27 WITA
NTB  

Dikebut Dua Bulan, Diresmikan Sepekan: Mengurai Ambisi Pemprov NTB Menuntaskan Proyek Strategis Jelang HUT ke-67

Sadimin, Kepala Dinas PUPR NTB, menjelaskan tantangan teknis dan progres pengerjaan sejumlah proyek jalan dan irigasi yang dikebut hingga menjelang HUT NTB ke-67. (Foto: Istimewa)

Mataram – Dalam dua bulan terakhir, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bergerak cepat menyelesaikan sejumlah proyek strategis, terutama di sektor jalan dan irigasi. Kejar tayang menuju peresmian pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 NTB, 17 Desember 2025, memunculkan pertanyaan: seberapa siap proyek-proyek ini untuk benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat?

Sumber internal Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB menyebutkan, percepatan pengerjaan dilakukan sejak Oktober 2025. Beberapa proyek bahkan disebut “harus tembus sebelum hari peresmian”, sebuah pola yang kerap muncul dalam proyek infrastruktur setiap mendekati momentum politik atau seremoni daerah.

Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pekerjaan kali ini menunjukkan progres signifikan dan bersifat menyeluruh. Kepala Dinas PUPR NTB, Sadimin, mengonfirmasi bahwa dua dari tiga paket jalan prioritas kini sudah mendekati rampung.

“Sudah mulai mulus dan bisa dilewati,” ujarnya, Kamis, 11 Desember 2025.

Paket Strategis: Dari Jalan Desa Menjadi Jalur Ekonomi

Ruas Tanjung Geres – Pohgading dan Simpang Tano – Seteluk menjadi dua proyek tercepat. Di lapangan, kondisi jalan yang sebelumnya penuh lubang kini mulai tampak rata. Waktu tempuh yang biasanya 20 menit kini hanya sekitar 5 menit.

Nilai anggaran proyek:

  • Tanjung Geres – Pohgading: Rp28 miliar (4 km)
  • Simpang Tano – Seteluk: Rp32,5 miliar (3,8 km)

Perhitungan kasar menunjukkan, biaya pembangunan per kilometer berada pada kisaran Rp7–8 miliar. Angka tersebut masih dalam batas wajar untuk kelas jalan provinsi dengan karakteristik geografis NTB yang cukup kompleks.

Namun, sejumlah pengamat infrastruktur menilai bahwa kecepatan pengerjaan tidak boleh menjadi prioritas tunggal.

“Semakin dikebut, semakin besar potensi kualitas dipertanyakan. Yang penting bukan hanya selesai cepat, tetapi kuat bertahun-tahun,” ujar salah satu analis konstruksi lokal yang enggan disebutkan namanya.

Lenangguar-Lunyuk: Proyek yang Menguji Nalar Engineering

Berbeda dari dua proyek lain, ruas Lenangguar – Lunyuk justru menjadi titik paling krusial. Progresnya baru 70 persen, tertinggal dari target karena kondisi tanah yang rawan longsor.

“Saat pengeboran untuk pemasangan besi, sempat longsor. Terpaksa dibersihkan dulu agar kualitas cor tidak bermasalah,” kata Sadimin.

Proyek ini bernilai Rp20 miliar, mencakup dua titik tebing yang terus bergerak. Kondisi kontur tanah jenis ini secara teknis membutuhkan analisis geologi mendalam dan desain penahan tebing yang tepat. Permasalahan longsor yang masih terjadi sampai tahap pengerjaan menunjukkan bahwa rekayasa teknis di lokasi tersebut bukan sekadar pekerjaan rutinitas, tetapi membutuhkan perhatian khusus.

Dampaknya pun besar. Jika selesai tepat dan sesuai standar, akses ini dapat memangkas waktu perjalanan dari Sumbawa Barat ke Sumbawa lebih dari dua jam. Namun, jika penanganannya asal-asalan, kawasan tersebut berpotensi kembali mengalami kerusakan dalam waktu singkat sebuah pola klasik proyek jalan di wilayah rawan bencana.

Jaringan Irigasi: Proyek Senyap yang Justru Paling Stabil

Di luar hiruk-pikuk pembangunan jalan, Pemprov NTB menuntaskan tiga paket jaringan irigasi senilai Rp13,5 miliar. Meski jarang diberitakan, proyek irigasi justru sering menjadi penentu stabilitas ekonomi masyarakat desa, terutama petani.

Semua jaringan irigasi tersebut sudah rampung 100 persen dan tinggal menunggu peresmian simbolis oleh Gubernur NTB.

“Semua sudah selesai, tinggal yang kecil-kecil saja,” ujar Sadimin.

Di balik kesuksesan ini, muncul pertanyaan lanjutan: apakah perbaikan jaringan irigasi tersebut juga disertai dengan rehabilitasi lahan dan sistem distribusi air yang lebih luas? Tanpa itu, irigasi yang bagus hanya akan berfungsi pada musim basah dan kembali bermasalah saat kemarau.

Kado untuk NTB atau Agenda Simbolik?

Pemprov NTB terang-terangan menyampaikan bahwa proyek-proyek ini akan dijadikan “hadiah” untuk HUT NTB ke-67. Konsep ini bukan hal baru. Setiap tahun, hampir semua daerah berlomba menampilkan proyek bernilai besar menjelang hari jadi.

Namun, dalam konteks pembangunan, proyek yang dikebut jelang seremoni kerap mendapat sorotan. Apakah benar seluruh pengerjaan sudah melalui tahapan kualitas yang ketat? Apakah prosesnya benar-benar memenuhi standar engineering? Bagaimana audit internalnya?

Hingga kini, tidak ada temuan lanjutan. Tetapi publik tentu berharap bahwa percepatan pembangunan ini tidak hanya berhenti pada momen simbolik.

Infrastruktur untuk Siapa?

Meski dinilai ambisius, proyek yang hampir tuntas ini tetap memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Jalan yang mulus memangkas waktu tempuh, mempermudah mobilitas, dan memperbaiki rantai distribusi ekonomi lokal. Irigasi yang berfungsi meningkatkan produktivitas pertanian. Setidaknya, itulah harapan publik.

Namun, laporan investigatif harus selalu menyisakan ruang tanya, Apakah pembangunan ini benar-benar dibangun untuk ketahanan jangka panjang, atau hanya sekadar pencitraan tahunan?

Sejauh ini, jawaban itu masih menunggu satu hal, kualitas akhir pekerjaan.