Mataram – Tiga kawasan pesisir di Kota Mataram kini menjadi perhatian serius Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Mataram. Berdasarkan pemetaan internal, wilayah Penan, Taman Sari, dan Pelembak di Kecamatan Ampenan teridentifikasi sebagai titik rawan peredaran narkoba. Untuk menanggapi kondisi ini, BNN menggelar koordinasi lintas sektor yang melibatkan Camat Ampenan, Muzzakir Walad, S.STP, serta seluruh lurah dari wilayah tersebut.
Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Kepala BNN Kota Mataram, Yuanita Amelia Sari, S.E., M.Si., itu menandai dimulainya langkah serius intervensi berbasis kawasan. Dalam arahannya, Yuanita menyampaikan bahwa fenomena penyalahgunaan narkoba di wilayah pesisir kerap bersifat tersembunyi dan berlangsung pada malam hari, sehingga memerlukan strategi khusus yang tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan konvensional.
“Kami ingin membangun sistem pencegahan yang hidup di tengah masyarakat. Karena itu, kami gandeng semua unsur, dari aparat pemerintah lokal hingga ibu-ibu PKK,” ujar Yuanita.
Langkah konkret yang disiapkan antara lain pembentukan Satgas Anti-Narkoba tingkat kelurahan dan kecamatan, penyusunan regulasi lokal sebagai dasar hukum intervensi, hingga pelaksanaan razia gabungan malam hari yang akan dimulai sekitar pukul 23.00 WITA. Razia ini akan disertai dengan tes urine dan skrining HIV sebagai bentuk deteksi dini terhadap penyalahgunaan zat berbahaya di masyarakat.
Sebanyak 55 banner edukatif bertema anti-narkoba juga akan dipasang di titik-titik strategis untuk menggugah kesadaran publik. Sementara itu, program Klinik Keliling BERSINAR akan menyasar wilayah Bintaro dengan layanan skrining dan penyuluhan kesehatan.
Tak hanya itu, BNN juga akan melakukan pendataan penghuni kos-kosan dan pondok secara menyeluruh, serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam bentuk pelaporan melalui call center resmi.
Dengan keterlibatan penuh dari para pemangku kepentingan di Ampenan dan dukungan masyarakat, intervensi kawasan pesisir ini diharapkan menjadi contoh model pencegahan narkoba yang berkelanjutan, inklusif, dan responsif terhadap dinamika sosial lokal.





