PLN Tak Ingin Gangguan Listrik Menjadi Keluhan Berkepanjangan, Respons Cepat Jadi Tolok Ukur Pelayanan

Lombok Bicara.com Lombok Bicara.com Lombok Bicara.com
Tak kenal lelah, petugas PLN terus bekerja hingga malam hari untuk mempercepat penanganan gangguan agar masyarakat dapat kembali beraktivitas. Dalam setiap pekerjaan, PLN mengedepankan kecepatan respons, ketelitian, dan keselamatan sebagai prinsip utama. (Dok. PLN)

JAKARTA – Bagi masyarakat, listrik bukan sekadar persoalan jaringan dan pembangkit. Ketika aliran listrik terputus, aktivitas ekonomi bisa terhenti, pelayanan kesehatan menghadapi tantangan, kegiatan belajar terganggu, bahkan kenyamanan rumah tangga ikut terdampak.

Karena itu, keandalan pasokan dan kecepatan penanganan gangguan menjadi salah satu ukuran penting dalam menilai kualitas pelayanan perusahaan listrik kepada masyarakat.

Pesan inilah yang mengemuka dalam peringatan Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81. PT PLN (Persero) menegaskan bahwa setiap laporan gangguan harus mendapatkan penanganan cepat, terarah, dan terukur.

Direktur Utama PLN, Suroso Isnandar, secara khusus menyoroti pentingnya respons perusahaan terhadap keluhan pelanggan. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mendapatkan penjelasan mengenai penyebab gangguan, tetapi juga membutuhkan kepastian kapan listrik kembali menyala.

“Ketika keluhan atau gangguan datang, harus segera ditangani, meskipun kita sangat paham tantangan di lapangan sungguh berat,” ujar Suroso dalam upacara peringatan HLN ke-81 di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Ia mengakui, pekerjaan petugas PLN di lapangan tidak selalu mudah. Dalam kondisi tertentu, petugas harus menempuh perjalanan panjang, melewati medan sulit, menghadapi cuaca buruk, bahkan menyeberangi wilayah tertentu untuk menjangkau titik gangguan.

Namun, berbagai kendala tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kelistrikan yang cepat dan andal.

Sebagai langkah perbaikan, PLN melakukan pemetaan terhadap titik-titik gangguan berulang berdasarkan tingkat risiko. Langkah ini disertai penguatan kesiapan personel, peralatan, dan material agar proses pemulihan dapat dilakukan lebih cepat.

PLN juga menekankan pentingnya tindak lanjut terhadap setiap keluhan pelanggan secara jelas dan terukur.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena dampak gangguan listrik tidak selalu berhenti pada padamnya lampu. Bagi pelaku usaha kecil, terhentinya pasokan listrik dapat menghambat aktivitas perdagangan dan berpotensi mengganggu pendapatan.

Di rumah sakit, keberadaan listrik menjadi bagian penting dalam mendukung pelayanan dan perawatan pasien. Sementara di sektor pendidikan, listrik menunjang proses pembelajaran dan akses terhadap berbagai fasilitas digital.

Pada sektor industri, stabilitas pasokan listrik bahkan berkaitan langsung dengan kelangsungan proses produksi dan produktivitas usaha.

Dengan demikian, keandalan listrik harus dipahami sebagai bagian dari pelayanan publik yang memiliki dampak luas terhadap kehidupan sosial dan ekonomi.

Suroso menegaskan bahwa perjuangan petugas dalam menangani gangguan tidak boleh hanya menjadi cerita seremonial pada peringatan Hari Listrik Nasional.

“Saya tidak ingin perjuangan ini hanya menjadi cerita di Hari Listrik Nasional, namun menjadi perubahan nyata dalam merespons kebutuhan masyarakat,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa tantangan pelayanan PLN ke depan bukan hanya menjaga pasokan tetap tersedia, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui respons yang cepat, komunikasi yang jelas, dan penyelesaian gangguan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pelayanan kelistrikan bukan hanya seberapa besar jaringan yang dibangun, melainkan seberapa cepat dan tepat perusahaan hadir ketika masyarakat membutuhkan listrik kembali menyala.

Tutup