Lombok Barat – Ekosistem halal di Nusa Tenggara Barat (NTB) memasuki babak baru yang lebih progresif. Lembaga Sembelih Hidayatullah (LSH) secara resmi menggelar pelatihan dan sertifikasi kompetensi Juru Sembelih Halal (Juleha) berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di Aula Kementerian Agama Kabupaten Lombok Barat, Senin (19/01/2026).
Langkah strategis ini diambil guna memastikan integritas pangan dari titik paling krusial, yakni hulu penyembelihan. Hal ini menjadi kian vital mengingat NTB tengah bersiap menjadi penopang utama penyediaan protein hewani bagi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ketua LSH, Ustadz Nanang Hanani, menekankan bahwa juru sembelih bukan sekadar eksekutor teknis, melainkan penjaga gawang pertama dalam menjamin kehalalan produk pangan.
“Juru sembelih adalah mata rantai paling hulu. Jika di titik ini standar syariat dan profesionalisme tidak terpenuhi, maka seluruh ekosistem halal di hilir akan gugur secara substansi. Kami ingin memastikan bahwa setiap tetes darah yang keluar adalah hasil dari proses yang legal secara agama dan kompeten secara profesi,” tegas Ustaz Nanang.
Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 30 peserta dari berbagai penjuru NTB ini juga menjadi jawaban atas instruksi Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) melalui program nasional “Satu Desa, Dua Juleha”.
Inovasi “Sapu Cinta” dan Standar Internasional
Pelatihan ini tidak hanya berkutat pada fikih penyembelihan, tetapi juga mengadopsi prinsip modern Animal Welfare (kesejahteraan hewan). Salah satu teknik unggulan yang diajarkan adalah Metode Sapu Cinta, yakni teknik merebahkan hewan kurban atau potong dengan lembut guna meminimalkan stres dan rasa sakit pada ternak.
Peserta dibekali pemahaman mendalam mengenai:
- Aspek Spiritual: Kewajiban ibadah salat dan adab bagi penyembelih.
- Teknis Bilah: Edukasi penggunaan pisau standar kompetensi dengan ketajaman super (razor sharp).
- Kompetensi Global: Materi disampaikan oleh instruktur bersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), menjadikan lulusannya memiliki kualifikasi yang diakui secara internasional.
“Kelulusan di LSH tidak bersifat formalitas. Kami melakukan uji petik praktik secara ketat. Jika titik sayatan belum presisi sesuai standar SKKNI, peserta wajib menjalani pendalaman materi kembali hingga benar-benar mumpuni,” tambah Nanang.
Dukungan penuh datang dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Barat. Kasi Bimas Islam, Nahrowi, menyatakan bahwa inventarisasi Juleha bersertifikat menjadi prioritas instansinya untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat.
“Kami menargetkan idealnya setiap desa memiliki minimal satu hingga dua Juleha bersertifikat. Data penyembelih kompeten ini akan kami distribusikan melalui Kantor Urusan Agama (KUA) agar masyarakat mudah mengakses jasa penyembelihan yang terjamin kehalalannya,” jelasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk bergeser dari sekadar melihat profil penjual secara tradisional menuju kesadaran berbasis sertifikasi proses. Sesuai mandat Surah Al-Baqarah ayat 168, pangan tidak hanya harus halal, tetapi juga thayyib (baik/berkualitas).
Pelatihan di Lombok Barat ini merupakan putaran kesembilan dalam rangkaian safari edukasi LSH di NTB, setelah sebelumnya menyisir Sumbawa, Dompu, dan Bima.
Kehadiran Juleha yang profesional diharapkan mampu meningkatkan nilai tawar NTB sebagai destinasi wisata halal unggulan, sekaligus memastikan kesiapan daerah dalam menyuplai daging berkualitas tinggi untuk kebutuhan gizi nasional.





