Sabtu, 17 Januari 2026 | 11.32 WITA
NTB  

Peringatan Isra’ Mi’raj, Gubernur Iqbal Ajak Warga NTB Perkuat Iman dan Kepedulian Lingkungan

Gubernur NTB Miq Iqbal mengajak masyarakat memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap lingkungan dalam momentum Isra’ Mi’raj. (Foto: Istimewa)

Mataram – Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi momentum penting bagi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal untuk mengajak masyarakat menata kembali hubungan spiritual, sosial, dan ekologis yang dinilai semakin rapuh di tengah meningkatnya bencana alam.

Berbicara di hadapan jamaah Masjid Islamic Center Mataram, Gubernur Iqbal menekankan bahwa Isra’ Mi’raj mengandung pesan tanggung jawab besar manusia sebagai khalifah di bumi. Menurutnya, ayat 286 Surah Al-Baqarah yang diterima Rasulullah SAW dalam peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa setiap ujian selalu memiliki makna dan batas kemampuan.

“Kita sedang diuji bersama. Saudara-saudara kita di Sumatera dan masyarakat NTB yang terdampak banjir adalah bukti bahwa musibah bisa datang kapan saja. Namun Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian menghadapi cobaan,” katanya.

Iqbal mengungkapkan, kunjungannya ke lokasi banjir di Sekotong Lombok Barat memperlihatkan betapa pentingnya solidaritas lintas sektor. Ia menilai, kehadiran negara, empati sosial, serta gotong royong masyarakat menjadi faktor utama dalam mempercepat pemulihan pascabencana.

Lebih mendalam, Gubernur juga mengajak masyarakat untuk bercermin, bahwa banyak bencana berakar dari perilaku manusia yang abai terhadap kelestarian lingkungan. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan eksploitasi alam tanpa kendali dinilai memperbesar risiko bencana.

“Oleh karena itu, peringatan Isra’ Mi’raj tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus melahirkan kesadaran kolektif untuk berbuat lebih bijak terhadap alam dan lebih peduli terhadap sesama,” tegasnya.

Menurut Iqbal, semangat gotong royong yang telah menjadi identitas masyarakat NTB harus terus dirawat, terutama dalam situasi krisis. Solidaritas sosial, kata dia, bukan hanya bentuk kemanusiaan, tetapi juga wujud ketaatan spiritual.