LOMBOK BARAT – Jelang Hari Raya Idul adha 1447 Hijriah, Dinas Perdagangan Kabupaten Lombok Barat terus memantau perkembangan harga bahan pokok di sejumlah pasar tradisional. Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Lombok Barat, H. Muhammad Adnan, mengatakan pihaknya menemukan sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga cukup signifikan, terutama minyak goreng, daging ayam, telur, hingga LPG di tingkat pengecer.
“Dari hasil pemantauan kami di beberapa pasar, harga yang cukup signifikan naik itu minyak goreng. Di pasaran sekarang mencapai sekitar Rp23 ribu per liter, padahal harga eceran tertinggi sekitar Rp15.500. Kemudian daging ayam juga cukup tinggi, berkisar Rp35 ribu sampai Rp45 ribu per kilogram. Begitu juga telur mengalami kenaikan,” ujar Adnan, Kamis, 20 Mei 2026.
Ia menjelaskan, kenaikan harga tersebut dipengaruhi tingginya permintaan masyarakat menjelang Idul adha dan distribusi barang yang masih melalui agen. Menurutnya, banyak pedagang pasar belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), sehingga tidak bisa langsung mengambil barang ke Bulog dengan harga standar pemerintah.
“Kalau pedagang bisa langsung ambil ke Bulog, tentu harganya tidak akan terlalu tinggi. Karena itu kami dorong para pengecer dan pedagang pasar untuk segera mengurus NIB agar bisa membeli langsung ke Bulog tanpa melalui agen,” katanya.
Adnan juga mengungkapkan adanya perbedaan harga antarwilayah di Lombok Barat. Menurutnya, harga sejumlah komoditas di wilayah Kediri cenderung lebih tinggi dibanding Gerung karena faktor distribusi dan lokasi pengambilan barang.
“Kami temukan harga minyak goreng dan daging ayam di Kediri relatif lebih tinggi dibanding Gerung. Jadi setiap pasar memang berbeda-beda tergantung mereka mengambil barang dari mana,” jelasnya.
Selain bahan pokok, pihaknya juga menyoroti harga LPG 3 kilogram yang di tingkat pangkalan masih sesuai ketentuan, yakni Rp18 ribu per tabung. Namun harga mengalami kenaikan saat sampai di tingkat pengecer.
“Kalau di pangkalan sebenarnya sesuai harga, Rp18 ribu. Tapi di pengecer bisa naik jadi Rp22 ribu sampai Rp23 ribu karena ada biaya antar dan distribusi. Bahkan ada laporan masyarakat harga sampai Rp30 ribu, meski
sejauh ini belum kami temukan langsung,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya juga menemukan praktik sebagian pengecer yang sengaja membatasi penjualan untuk menaikkan harga di tengah tingginya permintaan masyarakat menjelang musim hajatan, pernikahan, hingga Idul adha.
Untuk menekan lonjakan harga, Dinas Perdagangan Lombok Barat telah menggelar pasar murah di sejumlah titik. Kegiatan tersebut melibatkan Bulog, distributor, ritel modern, serta sejumlah pelaku usaha.
“Kami sudah mulai melaksanakan pasar murah di beberapa lokasi seperti Senggigi, Taman Ayu, Batulayar, Narmada, dan Kediri. Tujuannya untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga standar,” kata Adnan.
Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap pasar murah cukup tinggi, terutama untuk komoditas beras dan minyak goreng. Ia memastikan kegiatan serupa akan terus dilakukan menjelang hari-hari besar keagamaan.
“Harapan kami harga bisa kembali stabil dan masyarakat lebih mudah mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Kami juga berharap pedagang bisa segera mengurus NIB agar distribusi barang lebih pendek dan harga tidak melonjak terlalu tinggi,” pungkasnya





