Sabtu, 13 Juni 2026 | 20.53 WITA
NTB  

PPL Lombok Tebar Semangat Kurban dan Toleransi di Tanah Rantau, Tiga Ekor Sapi Disembelih untuk Warga

Kebersamaan keluarga besar Paguyuban Pasundan Lombok (PPL) usai pelaksanaan penyembelihan hewan kurban Iduladha 1447 H di Lombok, Kamis (28/5/2026), sebagai wujud sauyunan dan semangat gotong royong di tanah rantau. (Foto: istimewa)

MATARAM – Momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah dimaknai secara mendalam oleh Paguyuban Pasundan Lombok (PPL). Tidak sekadar menjalankan ritual keagamaan, organisasi warga Sunda di Pulau Lombok itu menjadikan penyembelihan hewan kurban sebagai simbol kepedulian sosial, penguatan persaudaraan, sekaligus peneguhan nilai toleransi di tanah rantau.

Kamis (28/5/2026), keluarga besar PPL kembali melaksanakan kegiatan penyembelihan hewan kurban yang dipusatkan di lingkungan paguyuban. Tahun ini, PPL menyembelih tiga ekor sapi kurban yang kemudian didistribusikan kepada anggota paguyuban, warga Sunda di Kota Mataram, hingga masyarakat sekitar lokasi kegiatan.

Ketua Paguyuban Pasundan Lombok, Deden Sukandar, mengatakan Iduladha tahun ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi seluruh keluarga besar PPL. Menurutnya, keberadaan paguyuban tidak boleh hanya dirasakan oleh internal organisasi, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

“Makna kurban tahun ini menegaskan bahwa keberadaan Paguyuban Pasundan Lombok harus membawa manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Bukan hanya untuk intern warga Pasundan, tetapi juga mengalirkan berkah bagi masyarakat Sasak dan warga Lombok secara umum. Ini adalah bentuk rasa syukur dan cara PPL ngadegkeun kehormatan, membaur, serta berkontribusi bagi bumi Gora yang telah menjadi rumah kedua,” ujar Deden.

Ia menegaskan, konsistensi PPL dalam melaksanakan kurban setiap tahun bukan semata tradisi seremonial, melainkan bagian dari komitmen menjaga identitas budaya, spiritualitas, serta memperkuat ikatan sosial antarwarga Sunda di perantauan.

Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat, antusiasme anggota paguyuban untuk tetap berkurban disebut tidak surut. Menurut Deden, justru muncul semangat kolektif dan gotong royong yang semakin kuat.

“Alhamdulillah tahun ini PPL tetap bisa berkurban dari partisipasi anggota Paguyuban Pasundan Lombok. Ini membuktikan semangat berbagi dan kepedulian sosial masih tumbuh kuat di tengah masyarakat,” katanya.

Lebih jauh, Deden menyebut momentum kurban memiliki daya rekat sosial yang sangat besar bagi warga Sunda di Lombok. Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi lintas generasi yang mempertemukan sesepuh, pengurus, hingga generasi muda dalam suasana kekeluargaan yang hangat.

“Bagi warga perantauan, kegiatan seperti ini ibarat lebaran mini. Daya rekat sosialnya luar biasa. Selain ibadah, kurban menjadi ajang mempererat sauyunan atau kebersamaan warga Sunda di tanah rantau,” tuturnya.

Suasana gotong royong keluarga besar Paguyuban Pasundan Lombok (PPL) saat proses penyembelihan dan pengolahan hewan kurban Iduladha 1447 H di Lombok, Kamis (28/5/2026). (Foto: istimewa)

Menurutnya, PPL juga secara serius melibatkan generasi muda yang tergabung dalam Barudak PPL sebagai motor penggerak kegiatan di lapangan. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari estafet nilai kebersamaan agar semangat gotong royong tidak tergerus zaman.

“Melibatkan anak-anak muda dalam kegiatan sakral seperti kurban adalah strategi penting agar nilai sauyunan tetap hidup dan terus diwariskan,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Kurban PPL Lombok, Deny Budiman, menjelaskan proses distribusi daging kurban dilakukan secara terstruktur dan berbasis data agar tepat sasaran serta benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Menurut Deny, panitia sejak awal telah melakukan pendataan penerima manfaat, baik dari internal paguyuban maupun masyarakat sekitar lokasi kegiatan.

“Kami ingin pembagian daging kurban berjalan tertib, transparan, dan tepat sasaran. Karena tujuan utama kegiatan ini bukan hanya membagikan daging, tetapi menghadirkan kebahagiaan dan rasa kebersamaan di tengah masyarakat,” jelas Deny.

Ia menambahkan, pelaksanaan kurban tahun ini juga menjadi refleksi penting bagi PPL untuk terus menjaga semangat gotong royong dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat NTB.

Di akhir kegiatan, Pembina Paguyuban Pasundan Lombok, H. Darda Subadra dan Anto Suwanto, menyampaikan apresiasi terhadap kekompakan seluruh keluarga besar PPL yang terus menjaga tradisi kurban sebagai sarana memperkuat persaudaraan dan kepedulian sosial.

Keduanya berharap semangat kebersamaan yang terbangun melalui momentum Iduladha dapat terus dirawat, tidak hanya di internal paguyuban, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat di NTB.

“Iduladha mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Kami berharap PPL terus menjadi organisasi yang mampu menjaga harmoni, toleransi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas di bumi Lombok,” tutup H. Darda Subadra dan Anto Suwanto.